Tuesday, December 19, 2006

Keserakahan Manusia


Dalam cerpen How Much Land Does A Man Need?*), Leo Tolstoy menceritakan seorang buruh tani yang berkeinginan untuk memiliki sebidang tanah.

Cerita berawal dari pertemuan dua saudara perempuan. Saudara tertua membanggakan bagaimana enaknya hidup di kota, dengan segala kenikmatan, baju-baju yang bagus, makanan yang enak dan mudah didapat, hingga pergi ke theater sebagai tempat hiburan. Adiknya tidak tergiur. Ia lebih menikmati hidup sebagai buruh tani dengan segala kekurangannya. Tidak ada ups and downs, tidak perlu ada ketakutan hari ini kaya besok tidur di jalanan. Buruh tani mungkin hidup pas-pasan, tapi bisa hidup lebih lama. Mungkin tidak akan pernah kaya, tapi tidak pernah kekurangan makanan.

Tidak demikian dengan suami perempuan yang lebih muda itu. Ia sudah merasa bosan sejak muda menggali tanah tanpa pernah memilikinya. Ia memohon diberi sebidang tanah, maka ia tidak akan takut pada siapa saja, Setan sekalipun. Maka terbentanglah jalan baginya untuk memiliki sebidang tanah dengan membeli pada seseorang yang mau menjual tanahnya. Ia lalu memiliki 30 acre. Jadilah ia merasa dirinya sebagai petani. Dapat informasi tanah murah di desa lain, ia segera pindah ke sana untuk mendapatkan tanah gratis 100 acre asal mau mengelolanya. Tidak puas dengan 100 acre, ia berencana membeli 1300 acre seharga 1500 roubel di desa baru itu. Kini ia sudah memiliki tabungan 1000 roubel yang siap dibayarkan, sisanya dibayar kemudian. Sebelum membeli 1300 acre, ia kembali mendapat informasi, bahwa di desa lain ada tanah yang sangat murah, hanya 20 sen per acre. Dengan uang yang sama, ia bisa mendapatkan tanah seluas 7500 acre.

Pergilah petani itu ke desa yang penduduknya lugu itu untuk membeli tanah di sana. Ketika membeli, syaratnya juga mudah, luas yang didapat sesuai dengan kemampuan ia berjalan dari sebuah titik kembali ke titik itu lagi sebelum matahari terbenam. Iapun lalu berjalan dan memasang pembatas tanah miliknya. Karena terlalu bersemangat, ia berjalan terlalu jauh, hingga melihat matahari sudah hampir condong ke barat. Maka ia buru-buru kembali ke titik awal itu. Ia lalu menyadari, jaraknya sekarang terlalu jauh dengan titik awal, maka ia paksakan untuk terus berlari agar bisa sampai ke titik awal itu untuk mendapatkan tanahnya, atau uangnya hilang. Karena terlalu dipaksakan, ia akhirnya muntah darah, lalu mati di tempat.

Akhir cerpen, tetua desa itu mengatakan kepada pembantu yang dibawa petani itu, ”Ambil tanah sepanjang kepala hingga kaki, lalu kuburkan.”

Bagi masyarakat Barat yang materialistik, kritik atas keserakahan manusia melalui cerpen menjadi hal yang menarik perhatian, dan karenanya cerpen ini masuk kumpulan cerpen terbaik Leo Tolstoy. Tulisan ini masuk kategori "art must serve a moral purpose".

Bagi ummat Islam, kritik serupa akan dengan mudah didapatkan dalam kitabnya. Salah satu contohnya dapat ditemui dalam surat ke 102 (At-Takaatsur):
Alhaakumut-takaatsur (1). Hatta zurtumu al-maqoobir (2).”
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (1). Sampai kamu masuk ke liang kubur (2).


Nabi Muhammad juga pernah mengatakan hal yang kurang lebih berbunyi:
Manusia tidak akan pernah puas. Diberi satu gunung emas, dia akan minta dua gunung emas. Diberi dua gunung emas, dia akan minta tiga gunung emas. Begitu seterusnya. Hanya kematian yang akan menghentikannya.
***

Loss is Gain’s elder brother” atau ”Kerugian adalah saudara tua Keberhasilan” adalah peribahasa yang dikutip dalam cerpen itu. Bagi ummat Islam, keberuntungan di dunia, seringkali berujung pada kerugian di akhirat.

Keserakahan tidak akan pernah berakhir dengan kebahagian. Waspadalah saudaraku!!! :) :) :)

*) Dari buku Master and Man and Other Stories, Leo Tolstoy, diterbitkan oleh Penguin Groups (www.penguin.com).

No comments: