Thursday, October 25, 2007

Prioritas Kerja Jangka Pendek

Setelah libur lebaran cukup lama, kini saatnya kembali konsentrasi pada pekerjaan-pekerjaan yang masih belum selesai. Beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan pada tahun ini di antaranya:
Peluncuran Indopolitik.com. Selasa (23/10) kemarin, Lalu Mara sudah sepakat membiayai biaya peliputan berita untuk situs Indopolitik.com selama setahun. Seorang kenalan Mara sudah dikontak dan bersedia menjadi koordinator liputan. Kini tinggal menunggu program dan bujet selama setahun yang akan diajukan kenalan Mara itu. Jika angka-angkanya sudah cocok, tinggal mencari waktu untuk peluncurannya. Mudah-mudahan Nopember ini sudah bisa berjalan.

Tagihan ke Total Indonesie. Pengurusan ganti rugi tanah yang digunakan PT Total Indonesie di Kalimantan sudah berkekuatan hukum tetap setelah putusan PK (Peninjauan Kembali) dikeluarkan Mahkamah Agung. Putusan PK menetapkan ahli waris tanah itu sebagai pemilik sah tanah yang dikuasai PT Total Indonesie dan memerintahkan PT Total Indonesie untuk membayar ganti rugi sebesar Rp 20 miliar, sebuah angka ganti rugi yang sebenarnya sangat kecil karena nilai pasar tanah tersebut berkisar Rp 200 miliar. Keterlibatan saya dkk dalam pekerjaan ini atas permintaan kuasa hukum ahli waris, yang dikenalkan oleh kawan baik saya Aziz Muslim, mantan Wasekjen PB HMI, sekitar 4 tahun lalu. Mereka ingin mengurus PK ke MA tetapi tidak punya dana, dan meminta saya mendanai seluruh proses gugatan ke pengadilan hingga penagihannya.

Mengejar piutang. Piutang saya yang tersebar di beberapa teman sepertinya sudah harus diintensifkan penagihannya, terutama piutang dalam jumlah besar. Mr X punya hutang kepada saya sebesar Rp 300 juta, Mr Y sebesar Rp 1,2 miliar, dan Mr Z Rp 400 juta. Saya tahu, kawan-kawan saya yang meminjam uang itu memang sedang berusaha mencari uang untuk mengembalikannya. Tetapi kalau saya tidak ngotot menagih dan terlalu lama, dikira saya sudah tidak butuh uang itu :)

Membangun mini market di Bumiayu. Tanah di Kalierang yang saya beli tahun lalu sudah setahun ini teronggok tanpa terurus setelah bangunannya saya robohkan. Ada pikiran membangun mini market bekerjasama dengan adik saya. Kebetulan, adik saya yang berjualan sembako di Pasar Kaki Lima, Bumiayu, saat ini sudah beromset Rp 15 juta per hari dengan kios seluas sekitar 8 m2. Semakin hari semakin bertambah saja pelanggannya. Gudang seluas 6 m2 yang dimiliki juga sudah tidak cukup. Jika di atas tanah kosong seluas 240 m2 itu saya bangun mini market, usaha adik saya mungkin bisa lebih berkembang lagi, dan yang terpenting.. tanah saya bisa dimanfaatkan.
Masih ada beberapa pekerjaan lainnya yang juga harus selesai dalam waktu dekat ini, seperti pengambil-alihan saham PT Asmindo (Arto Selaras Mandiri Indonesia), pemilik nomor layanan 3689, yang mau dijual seharga Rp 3 miliar, serta pengambil-alihan sebuah radio di Bumiayu yang mau dilepas dengan harga Rp 350 juta dan sedang saya tawar dengan harga Rp 300 juta.

Monday, October 22, 2007

Home Sweet Home

Akhirnya... aku kembali ke rumahku di Kalibata, kembali merasakan segala kenyamanan sebuah tempat tinggal, tempat untuk kembali. Senyaman apapun tempat tinggal di luar, tetap saja kita akan merindukan tempat tinggal sendiri. Home sweet home. Baiti jannati. Rumahku surgaku.

Semalam (21/10), tepat pukul 20.08 aku sampai ke rumah. Kepulangan dari kampung dipercepat sehari karena Shemissa memaksa akan masuk sekolah hari ini, meski pada akhirnya dia tidak masuk juga karena bangun kesiangan :)

Ini adalah perjalanan pulang kampung terlama sejak menjadi penduduk DKI. Saya pulang kampung dari 9 hingga 21 Oktober, dengan rincian tinggal di Bumiayu 9-14 Oktober dilanjutkan 19-21 Oktober dan di Pati 14-19 Oktober.

Tahun depan, kalau masih bertemu Ramadhan lagi, ingin lebih lama tinggal di kampung, terutama selama bulan puasa. Jika memungkinkan, 10 hari terakhir Ramadhan sudah ada di kampung. Bukan untuk menghindari kewajiban membagi THR kepada kawan-kawan, tetapi karena ingin menikmati puasa dengan lebih baik. Apapun, puasa di Jakarta kurang nikmat karena godaan terlalu banyak :)

Banyak yang ingin ditulis, tetapi badan masih pegal-pegal akibat perjalanan darat yang cukup lama, sekitar 9 jam, lebih lambat 3 jam dari laju normal.

Tuesday, October 16, 2007

Hisab

Apakah pada jaman nabi Muhammad hidup belum ada metode hisab untuk menentukan bulan baru qamariyah? Jawabannya sederhana: sudah ada.

Bangsa Yahudi membuat kalendernya, lunar calendar, dengan mengadopsi tradisi bangsa Babylonia. Bangsa Babylonia sendiri meneruskan cara-cara pembuatan kalendernya dari bangsa Sumeria yang hidup jauh sebelum itu (ribuan tahun sebelum Masehi).

Bangsa Yahudi menggunakan dua metode utama dalam menyusun kalendernya. Pertama, kombinasi rukyatul hilal (didukung oleh 2 saksi) dan hisab (dilakukan oleh the Supreme Jewish Court) untuk menentukan awal bulan baru. Hasil rukyah harus diverifikasi dengan hasil perhitungan. Pembuatan kalender dengan cara ini sudah dilakukan sejak tahun 70.

Kedua, "modern" form, bangsa Yahudi sepenuhnya menggunakan perhitungan (a fixed arithmatics) dalam menyusun lunar calendar mereka. Kalender modern ini --juga mengadopsi aturan aritmatika bangsa Babylonia dalam menyusun kalendernya-- digunakan oleh bangsa Yahudi secara rahasia sejak abad ke-4 M, atau menurut Al-Khawarizmi, sepenuhnya menggunakan aturan modern pada abad ke-9. (Lihat Hebrew Calendar pada ensiklopedia Wikipedia atau Babylonians Calendar pada ensiklopedia Britannica).

Hitungan mereka menjadi rumit karena harus menyesuaikan kalendernya dengan gregorian calendar. Pada periode tertentu, mereka, baik bangsa Yahudi maupun Babylonia, dengan caranya masing-masing harus menambah hari agar selisih lunar calendar (354 hari) dengan gregorian calendar (365 hari) bisa tertutupi.

Ketika Al-Quran diturunkan pada abad ke-7 Masehi, bangsa Yahudi saat itu sudah menggunakan metode hisab “modern”. Bahkan, ratusan tahun sebelumnya, metode aritmatika dalam menyusun kalender sudah digunakan oleh bangsa Babylonia. Dengan fakta itu, pilihan nabi Muhammad saw atau Al-Quran pada metode visibility of the new crescent moon meninggalkan banyak pertanyaan bagi saya.

Kenapa Al-Quran lebih menggarisbawahi hilal (QS 2:189), sebagai tanda-tanda yang dipergunakan untuk menyusun kalender, terutama berkaitan dengan kalender kegiatan keagamaan? Apakah karena bangsa Arab adalah bangsa yang bodoh (ummi) sehingga hanya diperkenalkan pada metode sederhana ini?

Atau, apakah karena bangsa Arab hanya mengenal visibility of the new crescent moon dan tidak mengenal fixed arithmatics untuk membuat kalender, lantas tidak ada yang bertanya kepada nabi Muhammad saw tentang aritmatika penyusunan kalender?

Apa susahnya Al-Quran menyitir metode hisab bangsa Babylonia dan bangsa Yahudi sebagai cara lain dalam menentukan bulan qamariyah?

Atau, apakah karena Islam memilih simplicity, menghindari kerumitan seperti kalender Yahudi?

Yang pasti, karena orang Islam harus berpuasa setelah melihat hilal, tradisi penanggalan Islam konsisten menggunakan satu periode bulan dari ijtimak (conjuction) satu ke ijtimak berikutnya, tanpa perlu mengikuti atau menyesuaikan dengan kalender Gregorian.

Monday, October 15, 2007

Rukyatul Hilal

Rukyatul hilal adalah salah satu metode untuk menentukan awal bulan qamariyah. Rukyatul hilal artinya melihat hilal (crescent moon atau bulan sabit), yaitu bulan yang pertama muncul dan dapat dilihat pada setiap awal bulan qamariyah. Istilah ini selalu disebut-sebut --dan menjadi perdebatan yang seolah tiada habisnya karena terus berulang setiap tahunnya-- menjelang puasa Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri.

Mengapa rukyatul hilal? Karena ada sabda Nabi Muhammad saw yang mengatakan berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah (mengakhiri puasa Ramadhan) karena melihat hilal. Karena hadits tersebut, banyak ummat Islam menggunakan metode ini untuk menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri (Syawal), dan Idul Adha (Dzulhijjah).

Mengapa hanya pada 3 bulan itu saja rukyatul hilal menjadi penting? Karena di dalamnya ada 3 ibadah yang sudah ditentukan tanggalnya. Berpuasa sejak 1 Ramadhan, Idul Fitri pada 1 Syawal, dan Idul Adha pada 10, 11, dan 12 Dzulhijjah, serta tanggal yang sangat krusial yaitu 9 Dzulhijjah ketika jamaah haji melaksanakan wukuf, inti dari pelaksanaan ibadah haji, di Arafah.

Bagaimana melaksanakan rukyatul hilal? Ada ulama yang masih berpendapat, melihat hilal harus dengan mata telanjang (naked eyes), ada yang membolehkan dengan teropong, ada yang cukup dengan menggunakan hitungan (hisab) kapan secara teoritis hilal sudah mulai nampak (imkanur rukyah).

Metode penentuan bulan baru qamariyah (lunar calendar) berdasarkan penampakan bulan baru (visibility of the new crescent moon), telah digunakan oleh berbagai kebudayaan sejak 5000 tahun yang lalu, sejak kira-kira 1000 tahun sebelum lahirnya Nabi Ibrahim. Demikian menurut situs An Einstein Year Project, sebuah situs yang menampilkan laporan tentang bulan baru.

Menyadari kenyataan bahwa tradisi rukyatul hilal adalah tradisi tua, yang sudah hidup di tengah bangsa-bangsa Arab selama ribuan tahun, kita bisa memaklumi mengapa Nabi saw mengeluarkan sabdanya yang terkenal itu. Bahkan Al-Quran sendiri tidak terlepas dari tradisi tersebut:
Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: "Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji." (QS 2: 189)
***
Tradisi tua itu, setidaknya sudah berumur 1400 tahun dalam tradisi Islam, kini menghadapi tantangan baru. Perhitungan kalender qamariyah modern sudah banyak yang menggunakan metode hisab (perhitungan), tanpa perlu lagi bergantung hilal terlihat (visibility of the new crescent moon), bahkan tanpa perlu menghitung kemungkinan bulan terlihat atau tidak. Itulah metode hisab yang dikenal dengan kriteria wujudul hilal, bulan baru sudah di atas garis ufuk > 0 derajat pada saat matahari terbenam, setelah sebelumnya terjadi konjungsi atau ijtimak.

Di Indonesia, baru Muhammadiyah yang menggunakan hisab dengan kriteria wujudul hilal. Persis (Persatuan Islam) yang dalam banyak hal mirip Muhammadiyah, untuk masalah ini lebih memilih menggunakan hisab dengan kriteria imkanur rukyah (kemungkinan bulan terlihat). Kelompok-kelompok lain yang lebih tradisional masih belum beranjak dari rukyatul hilal.

Kesulitan orang meninggalkan tradisi yang sudah berumur ribuan tahun ini tentu mudah dipahami. Bukan hanya kita, kanjeng Nabi Muhammad, yang ajarannya berlaku untuk seluruh ummatnya hingga akhir zaman, menggunakan tradisi tua ini sebagai metode untuk menentukan awal bulan qamariah. Bahkan Al-Quran sendiri mengikuti setting budaya visibility of the new crescent moon.

Apa yang dilakukan Muhammadiyah, dalam tradisi Islam, adalah sebuah terobosan baru atau --menurut pakar astronomi dari LAPAN Dr. T Djamaluddin-- tafsiran baru. Penentuan awal bulan qamariyah dengan hisab wujudul hilal adalah sebuah tradisi modern yang sama sekali terlepas dari tradisi visibility of the new crescent moon yang sudah berumur ribuan tahun.

***
Perbedaan akan muncul pada ketinggian bulan tertentu, misalnya pada ketinggian bulan di atas ufuk masih di bawah 2 derajat tapi sudah di atas NOL derajat, seperti terjadi tahun ini (1428H/2007M). Secara teroritis bulan pasti tidak mungkin dapat dilihat, oleh karenanya pengguna metode rukyatul hilal dan metode hisab dengan kriteria imkanur rukyah akan menyatakan lusa sebagai awal bulan baru, tetapi pengguna metode hisab dengan kriteria wujudul hilal akan menyetakan besok sebagai awal bulan baru.

Perbedaan tersebut membuat banyak orang awam bingung, karena penentuan awal bulan-bulan itu berkaitan dengan ibadah. Contohnya, berpuasa pada 1 Syawal hukumnya haram. Untuk tahun ini, 1 Syawal-nya Muhammadiyah adalah 30 Ramadhan-nya Persis.

Contoh lain, berpuasa pada 10, 11, dan 12 Dzulhijjah juga haram, sementara berpuasa pada 9 Dzulhijjah hukumnya sunnah. Jika pengguna wujudul hilal meyakini 1 Dzulhijjah lebih awal satu hari dari rukyatul hilal, maka ada kemungkinan mereka berpuasa sunnah saat jamaah haji sedang wukuf pada tanggal 10 Dzulhijjah. Jika mereka berpuasa sunnah pada 9 Dzulhijjah, jamaah haji belum wukuf, padahal puasa sunnah tersebut adalah puasa solidaritas terhadap jamaah haji yang sedang wukuf, bukan puasa karena tanggal 9 Dzulhijjah.

Belum lagi kalau mau menghitung malam lailatul qadar. Malam ganjil bagi Muhammadiyah bisa jadi malam genap bagi Persis, jika keduanya memulai awal puasa pada hari yang berbeda.

Perbedaan-perbedaan ini membuat kesakralan tanggal-tanggal tersebut menjadi relatif. Jika Tuhan sangat demokratis dan cenderung membenarkan semua pendapat ummat-Nya, maka malam lailatul qadar tidak lagi diturunkan hanya pada malam ganjil, tetapi dapat turun sewaktu-waktu tidak perlu menunggu ganjil atau genap, karena keduanya relatif. Ganjil bagi rukyatul hilal bisa berarti genap bagi wujudul hilal.

Akan tetapi kata orang awam, yang pasti, pada jaman Nabi Muhammad saw dahulu, malam lailatul qadar turun pada malam ganjil sejak hilal terlihat pada awal Ramadhan :)

Sunday, October 07, 2007

Kriteria Imkanur Rukyah

Imkanur rukyah adalah salah satu kriteria penentuan awal bulan qamariyah, penanggalan berdasarkan peredaran bulan, berdasarkan metode hisab. Imkanur rukyah artinya keboleh-nampakan, yaitu kondisi di mana berdasarkan hisab, hilal sudah memungkinkan untuk dilihat.

Syarat-syarat penentuan awal bulan dengan imkanur rukyah adalah sebagai berikut:
  1. Ijtimak atau konjungsi (conjunction) terjadi sebelum matahari terbenam. *)
  2. Umur hilal (bulan baru) pada saat matahari terbenam telah lebih dari 8 jam sejak ijtimak.
  3. Ketinggian bulan di atas ufuk, saat matahari terbenam pada tanggal 29 bulan qamariyah, tidak kurang dari 2° dan jarak lengkung (bulan-matahari) tidak kurang dari 3°.
*) Ijtimak atau konjungsi (conjuction) adalah kondisi di mana posisi bulan dan matahari berada pada satu garis bujur dilihat dari posisi di bumi. Jika terjadi sebelum matahari terbenam (maghrib) disebut sebagai ijtimak qablal ghurub.



Di Indonesia, kriteria ini digunakan oleh Persatuan Islam (Persis). Dengan kriteria yang mirip, cara ini digunakan oleh Prof Said Jenie, kepala BPPT yang sekarang (lihat tulisan sebelum ini). Cara ini juga digunakan oleh pemerintah Malaysia.

Adapun cara lain metode hisab dalam menentukan awal bulan qamariyah adalah dengan kriteria wujudul hilal. Di Indonesia, ini adalah cara yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan qamariyah, termasuk dalam menentukan awal Ramadhan, 1 Syawal, dan 1 Dzulhijjah.

Syarat-syarat penentuan awal bulan dengan kriteria wujudul hilal adalah sebagai berikut:
  1. Ijtimak atau konjungsi (conjunction) terjadi sebelum matahari terbenam.
  2. Posisi hilal (bulan baru) pada saat matahari terbenam sudah di atas ufuk, berapapun tingginya, asal lebih besar dari pada NOL derajat.


Saturday, October 06, 2007

Hisab dan Rukyah

Melihat maraknya diskusi di banyak milis mengenai perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal di Indonesia, yang terjadi hampir setiap tahun, saya ingin meringkas permasalahan dan perbedaan pandangan yang ada.
  • Penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal dapat dilakukan (i) dengan cara perhitungan (hisab) atau (ii) dengan cara melihat hilal (rukyatul hilal atau biasa disebut rukyah saja).
  • Pihak yang berpedoman pada rukyah berpendapat bahwa, cara ini lebih sesuai dengan sunnah karena Nabi saw menganjurkan untuk memulai dan mengakhiri puasa karena "melihat hilal" sebagai sabdanya yang terkenal itu. Sementara, pihak yang menggunakan metode hisab berpendapat bahwa, --ringkasnya-- Islam tidak membatasi penentuan awal Ramadhan dengan melihat hilal secara kasat mata, tetapi dapat dilakukan melalui perhitungan karena Allah sudah berfirman bahwa peredaran bulan dan matahari mengikuti suatu ketetapan yang tidak berubah-ubah.
  • Perbedaan pendapat sebenarnya tidak terjadi antara hisab versus rukyah saja, tetapi juga sesama hisab maupun sesama rukyah; (i) perbedaan sesama hisab karena adanya perbedaan kriteria, (ii) sementara perbedaan sesama rukyah bisa karena peralatan yang digunakan; ada yang berpendapat harus dengan mata manusia sebagaimana sabda Nabi saw secara letterlijk, ada juga yang berpendapat bisa dilihat dengan peralatan modern seperti teropong bintang.
  • Perbedaan sesama hisab, misalnya, terjadi antara Muhammadiyah dan Persis. Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal, keadaan di mana posisi bulan sudah berada atas di ufuk, berapapun ketinggiannya. Sementara Persis menggunakan ketentuan imkanur rukyah, di mana ketinggian bulan minimal 2° di atas ufuk.
  • Perbedaan antara Muhammadiyah dan Persis terjadi pada tahun ini. Sesuai perhitungan (hisab), pada tanggal 29 Ramadhan pukul 12 siang telah terjadi ijtimak atau konjungsi (salah satu syarat astronomis untuk terjadinya bulan baru qamariyah, di mana posisi bulan dan matahari berada pada satu garis bujur dilihat dari posisi bumi, dan bulan berada pada posisi yang lebih dekat kepada matahari), dan ketinggian bulan di atas kota Yogya adalah 0,45° pada saat matahari terbenam.
  • Menurut Muhammadiyah, karena bulan sudah di atas ufuk meski hanya sebesar 0,45°, maka besoknya sudah bisa dihitung sebagai bulan baru, oleh karena itu Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal pada 12 Oktober 2007. Sedang menurut Persis, karena ketinggian bulan kurang dari 2°, maka besoknya belum dianggap memasuki bulan baru, oleh karenanya Persis memutuskan 1 Syawal jatuh pada tanggal 13 Oktober.
  • Di luar Muhammadiyah dan Persis, ada juga pendapat lepas dari para pakar. Misalnya pendapat Prof. Ir. Said Jenie, ScD, Kepala BPPT, seorang doktor yang menggeluti astrodynamic. Ia mengajukan syarat-syarat terjadinya bulan baru, yaitu:
  1. tinggi bulan > 2°,
  2. luas hilal > 1.5 %,
  3. separasi dg matahari > 10° dan
  4. umur hilal sejak ijtima' > 7 jam.
  • Dengan syarat itu, Prof Said Jenie berpendapat bahwa 1 Syawal jatuh pada tanggal 13 Oktober karena pada tanggal 29 Ramadhan atau 11 Oktober kondisi bulan adalah sebagai berikut:
  1. Tinggi bulan rata-rata 0 derajat 16 mnt s/d 1 derajat 05 menit,
  2. Luas hilal 0.16% -0.35%, hampir tak mungkin kelihatan,
  3. Separasi dg matahari cuma 5°, sehingga kecerlangan langit menghalangi kontrasnya bulan.
  4. Umur sejak terjadi ijtima' baru 5 jam.
  • Saya pribadi berpendapat, setelah mengikuti diskusi ini selama bertahun-tahun dan mempelajari berbagai pendapat yang ada, pendapat Prof Said Jenie dan Persis lebih bisa diterima akal saya, jika kita berpikir dalam kerangka hisab dan rukyah sekaligus.
  • Melihat hilal memang tidak harus diartikan secara letterlijk. Karena posisi bulan dan matahari yang sudah pasti --sebagaimana disebut Al-Quran-- maka posisi masing-masing benda langit tersebut juga bisa dihitung dengan ilmu hisab. Sementara itu, secara astronomis kita juga bisa menentukan kriteria benda-benda angkasa yang dapat terlihat dan secara fisika kita bisa menentukan definisi benda terlihat. Dengan ketentuan saintifik seperti itu, kita bisa menentukan kapan bulan terlihat tanpa harus melihatnya dengan mata kita. Dengan kriteria-kriteria seperti diajukan Prof Said Jenie, jika kondisinya terpenuhi, kita sudah bisa langsung memutuskan pergantian bulan tanpa perlu melihat hilal.
  • Sementara itu, menurut seorang pakar fisika dari ITS menjelaskan, ketentuan yang digunakan oleh Muhammadiyah lebih bisa dipertanggungjawabkan karena kriteria bulan terlihat, apakah itu 2°, 5°, 7°, atau 9°, tidak ilmiah. Maka, paling aman bagi Muhammadiyah adalah menggunakan titik NOL sebagai acuan untuk penentuan awal bulan baru. Sayangnya, dia tidak mau menjelaskan di mana ketidak-ilmiah-an pendapat bahwa hilal pada ketinggian 2°, 5°, 7°, atau 9° bisa dilihat.
  • Di luar ketentuan teknis tersebut di atas, ada juga perbedaan pendapat, siapa yang berhak menentukan awal dan akhir Ramadhan? Orang-orang salafi mengatakan hanya pemerintah yang berhak menentukan. Mereka yang berharap pada kesatuan ummat Islam dalam merayakan idul Fitri juga menghendaki adanya otoritas pemerintah dalam menentukan hari tersebut. MUI juga pernah mengeluarkan fatwa, yaitu fatwa no 2/2004 yang isinya mewajibkan kepada ummat Islam di Indonesia mengikuti keputusan pemerintah dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Namun demikian, ada juga pihak-pihak yang berpendapat bahwa pemerintah tidak perlu campur tangan dalam urusan ibadah warganya. Campur tangan pemerintah bisa juga dilihat sebagai upaya yang bertentangan dengan cita-cita negara sekuler Indonesia.
  • Jadi? Jangan berharap pada pemerintah atau ormas Islam, silahkan Anda memutuskan sendiri. Indonesia adalah negara merdeka. Anda pun bebas menentukan kapan lebaran Anda. Dengan informasi yang saya ringkas di atas, mudah-mudahan Anda yang membaca artikel ini bisa menentukan lebaran mana yang akan dinikmati.
  • Cheers :) :)

Thursday, October 04, 2007

Khatam Al-Quran

Minggu (30/9) malam, bertepatan dengan 19 Ramadhan, alhamdulillah, aku berhasil khataman al-Quran yang pertama.

Khatam, bahasa Arab, artinya penutup, akhir dari sebuah rangkaian. Berbeda dengan kata khalas, yang artinya selesai; dari sebuah proses. Kata khatam, misalnya, digunakan pada kata khatamun anbiya atau penutup --rangkaian-- para nabi; dimulai sejak Adam as dan diakhiri oleh Muhammad saw sebagai penutupnya. Kata ini juga bisa ditemukan pada istilah khusnul khatimah, atau akhir --kehidupan-- yang baik, atau meninggal dalam keadaan baik, bukan dalam keadaan maksiyat kepada Allah.

Bagi warga Bumiayu yang suka menggunakan istilah Arab, kata khatam digunakan juga saat sudah selesai membaca cerita silat Kho Ping Hoo yang berjilid-jilid itu. :)

Alhamdulillah, setiap bulan Ramadhan, saya bisa sekali khatam membaca al-Quran dalam bahasa Arab (tadarrus). Entah sejak SD kelas berapa aku memulainya, yang terbayang jelas dalam ingatan saya adalah al-Quran tua yang ada di rumah nenek yang dulu saya baca, saat pertama kali memulai khataman al-Quran. Sejak itu, sekali khatam membaca al-Quran di bulan Ramadhan seperti sudah menjadi kewajiban buat saya.

Akhir-akhir ini, setelah merasa semakin tua, mulai timbul keinginan atau nawaitu untuk membuatnya menjadi 2 kali khatam dalam bulan Ramadhan. Ternyata sangat berat. Setelah khatam yang pertama, rasanya seperti tidak ada semangat untuk membaca ulang. Seperti ada perasaan sudah tidak "wajib" lagi. Tetapi memang, perbuatan baik kadang harus dipaksakan, harus dilatih. Pepatah bilang: bisa karena biasa.

***
Apa sih manfaat membaca al-Quran, toh seluruh teks Arab yang dibaca tidak bisa sepenuhnya dipahami? Bagi saya pribadi, membaca al-Quran membuat jiwa saya merasa tenang. Mungkin sama dengan orang yang mendengar musik klasik, Beethoven atau Bach, yang konon bisa membuat perasaan menjadi tenang dan emosi menjadi cerdas.

Dari sekian banyak "musik", maka tadarrus, membaca al-Quran dengan nada-nada tertentu, adalah "musik" yang paling bisa membuat saya merasa tenteram. Saya membaca sendiri, membuat lagu sendiri, dan menikmati sendiri.

Menurut saya, kenikmatan mendengarkan pembacaan al-Quran sangat personal, tergantung dari pengalaman jiwa masing-masing. Kawan saya, Fadli Zon, katanya tidak suka dengan tilawatil quran-nya Muammar ZA yang meliuk-liuk itu, tetapi saya sangat suka. Sebaliknya, Fadli Zon sangat suka dengan tilawah-nya Syeikh Abdurrahman Sudais yang dari Makkah itu, tetapi saya kurang suka.

Tetapi ada satu kesamaan, ada kenikmatan yang bisa ditemukan atau diraih dari pembacaan ayat-ayat suci al-Quran, baik saat dibaca orang lain maupun saat dibaca sendiri: kenikmatan batin, ketenangan jiwa, dan ketentraman emosi.

***
Kenikmatan membaca al-Quran akan lebih mencapai puncaknya, mencapai titik optimum, ketika kelancaran membaca al-Quran diiringi nada yang enak, senandung yang mengalun sesuai dengan selera jiwa, dan pemahaman atas apa yang dibaca.

Bagi orang awam seperti kita, mungkin tidak perlu seluruh terjemahan harus dipahami. Ada beberapa tema pokok saja yang mungkin perlu dimengerti, seperti perintah shalat, puasa, zakat, infaq, sedekah kepada fakir miskin, amal shaleh, memenuhi janji, berbuat baik kepada orang tua, dan balasan-balasan atas amal manusia yang disediakan Allah.

Saat tadarrus, kita bisa menangis pada saat membaca ayat-ayat tentang balasan surga, azab neraka, atau bahkan turut bersedih karena memahami kepedihan dan ketabahan nabi Yaqub saat ditinggal nabi Yusuf anak kesayangannya.

Namun demikian, meski jika Anda tidak mengerti sama sekali arti dari ayat-ayat yang dibaca itu, saya yakin, Anda akan tetap bisa menikmatinya.

Somewhere, someplace, sometime, sepertinya kita semua pernah mendengar sebelumnya. Mungkin saat kita masih di alam langit, saat kita belum terlahir ke dunia ini. Maka, saat kita mendengarnya kembali di dunia ini, seperti ada rasa rindu yang terobati. :)

Wednesday, October 03, 2007

The Super IQ Test

Malam ini aku mengambil lagi tes IQ yang lain dari Tickle, namanya the Super IQ Test. Pada tes sebelumnya, The Classic IQ Test, saya cukup puas dengan free report, yang hanya menyampaikan ringkasan dari hasil tesnya.

Kali ini, karena penasaran, akhirnya saya rela membayar US$ 9.95 untuk membeli laporan hasil tes selengkapnya. Laporan hasil tesnya dapat dilihat pada alamat berikut:

The Super IQ Test - Tickle Personality Tests > Results

Karena saya ingin mengukur kemampuan sendiri dengan sebenar-benarnya, saya membatasi tes ini selama maksimum 1 jam; bisa tidak bisa harus diselesaikan.

Dari 54 soal, saya menjawab 48 soal dengan benar. Dari 6 jawaban yang salah, kategorinya adalah sebagai berikut:
  • 1 jawaban salah karena memang tidak tahu alias blank (soal tentang kemampuan bahasa).
  • 2 jawaban salah karena tidak paham dengan jawaban yang dimaui oleh soal tersebut.
  • 3 jawaban salah karena terjadi salah lihat akibat terburu-buru (soal-soal bergambar).
Hasilnya, score saya kali ini hanya 125. Komentarnya adalah sebagai berikut:

Fami, your IQ score is 125

Your overall intelligence quotient is the result of a scientifically-tested formula based on how many questions you answered correctly. But it's only part of what we learned about you from your answers on the test. We also determined the way you process information.

The way you think about things makes you an Intuitive Investigator. This means you have multiple talents and can do anything you set your mind to. You're able to detect numerical patterns easily and are able to grasp the true complexity of the world, both in its details and in a more abstract form. You've got a sharp logical mind and are adept at using words to get even a difficult point across. The combination of all these things makes you truly brilliant.

How did we determine that your thinking style is that of an Intuitive Investigator? When we examined your test results further, we analyzed how you scored on 8 dimensions of intelligence: spatial, organizational, abstract reasoning, logical, mechanical, verbal, visual and numerical. The 3 dimensions you scored highest on combine to make you an Intuitive Investigator. Only 6 out of 1,000 people have this rare combination of abilities.


***

Karena penasaran, berapa maksimum score yang dapat diperoleh jika seluruh jawaban yang diberikan benar, maka saya kembali menjawab soal-soal yang ada berdasarkan kunci jawaban yang ada pada laporan yang saya beli seharga US$ 9.95 itu. Ternyata, maksimum score adalah 168 dengan tipe intelektual Complex Intellectual.

Jika hanya 3 jawaban pada soal bergambar yang saya betulkan, nilainya menjadi 141 dengan tipe intelektual yang sama dengan 168, yaitu Complex Intellectual.