Thursday, April 27, 2006

Nenek Mengajari Disiplin Shalat

Sejak kecil aku tinggal bersama nenek dari ayah, Munirah binti Haji Nur alias Mulhad. Orang-orang memanggilnya Mbah Nirah. Aku tinggal bersamanya kira-kira sejak umur 5 tahun, saat nenek sudah berusia 73 tahun, hingga ia meninggal dunia pada usia 85 tahun, ketika aku kelas 1 SMA. Dialah yang mengajari disiplin shalat kepadaku.

Setiap hari nenek bangun pada pukul 3 pagi. Biasanya ia langsung ke kamar mandi yang ada di belakang rumah, berjarak 15-20 meter dari bangunan utama. Di sana nenek biasa menghabiskan waktu lebih dari 1/2 jam di dalamnya untuk buang air dan mandi.

Selesai mandi ia kembali ke tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk shalat shubuh. Ia memulainya dengan shalat sunnah 2 rakaat. Sambil menunggu adzan shubuh, ia melakukan wirid. Begitu terdengar adzan shubuh selesai dikumandangkan dari masjid, ia langsung shalat di atas tempat tidurnya sambil duduk selonjor. Ia lakukan itu karena kakinya pernah patah dan disambung. Ia hanya berjalan saat mau ke kamar mandi, ke meja makan, atau duduk di beranda rumah belakang sambil menghitung jumlah mangga yang ada di pohon.

Selesai shalat shubuh dan wirid, dia lalu memutar RRI untuk mendengarkan kuliah shubuh. Biasanya ia suka mendengarkan kuliah shubuh dari Buya Hamka. Kira-kira pukul 5.30, nenek mulai membangunkan aku dan kakakku.

Ia membangunkan aku dan kakakku dari tempat tidurnya. Tempat tidurku letaknya di ruang tengah, persis di depan pintu kamar tidurnya. Sambil tiduran nenek bisa melihat ke tempat tidur kami.

Untuk membangunkan kami, nenek memukul meja yang ada di dekat tempat tidurnya dengan penggaruk punggung yang dibuat dari tanduk kerbau secara berulang-ulang. Bunyi meja yang dipukul itu cukup untuk mengganggu tidurku. Suara tok tok tok, tok tok tok akan terus berbunyi sampai kami terbangun.

Kalau nenek mulai kesal karena kami tidak juga bangun, ia akan teriak-teriak "bangun sudah siang .. bangun sudah siang ..". Itu semua untuk membuat gaduh sehingga tidurku tidak nyaman. Kalau sudah gaduh begitu, aku pasti terbangun.

Sesudah terbangun, kamipun langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu, lalu kembali ke kamar nenek menggelar sajadah di samping tempat tidurnya. Kamipun lalu shalat subuh 2 rakaat. Puaslah nenek kalau sudah melihat kami shalat di depannya.

Bertahun-tahun aku menjalani hidup di pagi hari dengan cara begitu, hingga aku bisa bangun sendiri setiap pagi, saat aku sudah di bangku SMP. Kebiasaan itu terus terbawa hingga sekarang ini. Meski aku baru tidur setelah larut malam, kadang jam 3 kadang jam 4 pagi, paling lambat jam 5.30 aku pasti terbangun. Jika aku tidur lebih cepat, jam 12 atau jam 1 malam, maka aku bisa terbangun lebih pagi lagi.

Pada setiap pagi dengan bunyi meja dipukul-pukul itu, aku memang jengkel pada nenek. Aku merasa terganggu. Aku kadang shalat sambil menggerutu, kadang shalat sambil setengah tidur. Tapi kalau sekarang kukenang, sangat mengesankan. Aku tidak akan pernah lupa.

Begitupun dengan shalat-shalat lainnya, terutama shalat ashar. Kalau ia mendapati sarungku dan sarung kakakku masih di meja dekat tempat tidurnya menjelang shalat ashar, sambil tertatih-tatih ia berjalan ke halaman rumah memanggil-manggil namaku dan kakakku. Kepada setiap orang yang kelihatan di halaman dan dia kenal, ditanyakan di mana aku dan kakakku. Begitu kami muncul, kami disuruh untuk segera ke masjid, yang berjarak hanya 100 meter dari rumah.

Aku sangat berhutang budi kepadanya. Tanpa cinta dan kasih sayangnya, tanpa perhatiannya, mungkin aku tidak akan memiliki disiplin dan ketekunan seperti yang aku miliki sekarang ini. Subhanallah! Alhamdulillah!

***
Dulu Mbah Nirah sering bercerita, pernah mau pergi ke Makkah untuk berhaji. Biaya ditanggung oleh anaknya yang waktu itu paling mampu. Ia pakdeku. Nenek bahkan sempat berfoto untuk pendaftaran haji, katanya. Entah kenapa, ia gagal berangkat. Kalau ingat cerita itu, ingin sekali aku menghajikan nenek kalau kelak aku ada biaya. Semoga!

No comments: