Tuesday, April 25, 2006

Mimpi Jadi Kenyataan

Ketika aku kelas 3 SMA, sebenarnya aku sudah hopeless soal kuliah. Tetapi, sebagai aktifis Pelajar Islam Indonesia, aku tetap bersemangat untuk mengejar mimpi. Aku ingin jadi insinyur, cita-cita orang kampung yang belum tahu luasnya dunia. Aku membayangkan kelak akan bekerja sambil kuliah. Ya, bekerja sambil kuliah, bukan kuliah sambil bekerja!! Hal ini didasarkan pada kondisi ekonomi keluarga. Ayah Ibuku hanyalah penjual makanan yang setiap pagi dijual di sekolah-sekolah. Orang tuaku masih harus menghidupi --waktu itu-- 8 orang adik-adikku. Keuntungan dari hasil penjualan hanya cukup buat makan sehari-hari.

Untuk bayar sekolah, terpaksa nunggak. Selama aku sekolah SMA, dari 36 bulan, orangtuaku hanya mampu bayar sekitar 4 bulan, aku lupa persisnya. Sisanya tidak mampu dibayar. Termasuk uang pangkal, uang pertama masuk SMA. Aku tetap diperbolehkan untuk terus sekolah karena guru-guru di sekolah kenal dengan ayahku. Mungkin juga karena prestasiku. Ketika aku lulus SMA, bukan hanya terbaik di sekolah, tetapi Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang aku peroleh, tertinggi di wilayah Brebes Selatan. Guru-guru sangat bangga dengan prestasiku. Maka aku diberi hadiah. Seluruh tunggakan uang pangkal dan uang SPP (aku lupa kepanjangannya), dihapuskan, dianggap lunas.

Menjelang acara perpisahan dan pelepasan lulusan tahun 1987 di sekolah, aku masih tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya tahu, aku harus ke Jakarta. Aku mau mengadu nasib di sana. Aku belum tahu apakah mau kerja atau kuliah. Kalau mau kuliah, untuk membeli formulir Sipenmaru (seleksi penerimaan mahasiswa baru) saja aku tidak punya uang. Aku hanya tahu, ayahku punya adik di bilangan Senen, Jakarta Pusat, di daerah yang dikenal dengan nama Poncol. Aku mau ke sana, dengan bekal uang Rp 5.000. Ongkos naik bus malam waktu itu sekitar Rp 2.500. Aku mau mengadu nasib dengan bekal Rp 5.000, uang honor terakhir dari Haji Bisri, karena aku memberi les private matematika kepada anaknya. Dan bulan itu adalah bulan terakhir karena aku harus ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Tiba-tiba, dalam perjalanan pulang dari acara perpisahan di sekolah menuju ke rumah, malaikatku turun. Saat aku dalam perjalanan dari sekolah berjalan kaki menuju rumah, dari atas kendaraan andong, di kampungku disebutnya dokar, ada orang memanggil namaku. Kulihat ke atas, dia ternyata guruku, Abdul Karim Naguib. Dengan singkat dia berkata: "Nanti sore ke rumahku ya Mi." Aku tidak tahu ada apa aku dipanggil. Apakah ada wejangan-wejangan khusus buatku, karena kebetulan, guru tersebut juga mentorku di Pelajar Islam Indonesia Bumiayu.

Sorenya aku datang ke rumah pak Karim, biasa aku memanggilnya begitu. Tanpa banyak dialog, dia langsung menyodorkan kepadaku uang Rp 15.000. "Ini buat beli formulir Sipenmaru," katanya. Aku kaget, sekaligus bahagia. Darimana dia tahu, kalau aku sedang bingung mencari uang untuk membeli formulir Sipenmaru? "Sisanya buat jajan kamu," lanjutnya. Harga formulir waktu itu Rp 12.500. Sisanya Rp 2.500.

Malam itu juga berangkatlah aku ke Jakarta. Singkat cerita sampailah aku di Poncol, daerah kumuh yang penuh penghuni itu. Beberapa hari kemudian, pas hari H penjualan formulir Spenmaru dibuka, pagi-pagi aku sudah bangun. Tidak sabar rasanya ingin segera ke Salemba, membeli formulir. Selesai sarapan, aku pamitan dengan bulek Jaitun, adik ayahku, untuk pergi ke Salemba. Karena uang sangat cekak, aku putuskan berjalan kaki dari Poncol ke Salemba. Aku tidak tahu berapa kilometer jarak antara dua tempat itu, mungkin antara 2 sampai 3 kilometeran.

Beberapa hari kemudian, ada sepupu yang mengabarkan aku, adanya pengumuman tes seleksi penerima beasiswa dari Overseas Fellowship Program (OFP) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Maka akupun mendaftar ke lembaga tersebut. Saat pendaftaran, aku tidak rendah diri, tapi cukup terpukau dengan pendaftar lainnya. Maklum, aku orang kampung. BTL alias Bumiayu Tembak Langsung. Seumur hidup di Bumiayu, kini langsung hidup di Jakarta. Di mataku, mereka kelihatan hebat: bersih dan pintar-pintar. Kebanyakan datang ke lokasi pendaftaran dengan diantar mobil pribadi. Mereka nampak gagah dan sangat percaya diri. Tapi aku harus menghibur diri, "Kita lihat saja nanti kalau sudah tes."

Jumlah pendaftar, kata orang-orang, ada sekitar 6.000 pendaftar. Mereka adalah siswa-siswa lulusan SMA yang memiliki nilai rata-rata untuk matematika, fisika, dan kimia minimal 7 dari semester 1 sampai semester 6, termasuk NEM dan STTB. Kabarnya, hanya 1000 orang yang dipanggil, karena terbatasnya tempat. Beda dengan tahun sebelumnya, lebih dari 5000 orang ikut tes seleksi beasiswa dari BPPT. Tapi tahun itu, peserta tes dibatasi, diseleksi.

Saat pengumuman peserta tes seleksi, aku kesulitan mencari namaku. Urutan nama tidak sesuai abjad, tetapi mungkin, sesuai nilai rata-rata, dari yang tertinggi hingga yang terendah. Sampai nomor 1000 namaku tidak tercantum. Aku mulai gelisah. Akhirnya aku temukan namaku di urutan 1152 dari total 1200 nama yang dipanggil. Meski ada di urutan yang hampir paling bawah, masih untung bisa lolos. Alhamdulillah.

Dalam pengumuman tes tahap 1, academic test, yang meliputi tes matematika, fisika, kimia, dan aptitude test yg melelahkan, lolos sekitar 300 orang. Entah sesuai urutan nilai atau tidak, yang jelas tidak sesuai abjad, aku ada di urutan 149. Alhamdulillah.

Setelah mengikuti tes tahap 2, wawancara psikotest, di BPPT, hasil Sipenmaru diumumkan. Saat itu ada sedikit krisis. Aku lolos Sipenmaru, diterima di jurusan Teknik Elektro UI. Sesuai petunjuk, maka mendaftarlah aku ke UI. Di sana aku mendapat keterangan jumlah uang kuliah yang harus aku bayarkan. Aku lupa jumlahnya, tapi aku ingat, saat itu orangtuaku tidak punya uang. Bulek juga tidak punya uang. Sepupuku yang membawa aku ikut tes seleksi di BPPT hanya bisa membantu separuh.

Akhirnya aku temui panitia di UI. Aku sampaikan kondisiku apa adanya. Akhirnya aku diperbolehkan membayar separuh. Sisanya diberi tempo. Aku pikir ok saja, sambil menunggu pengumuman di BPPT. Sampai hari yang ditentukan, aku belum juga bisa membayar yang separuh.

Malam itu aku bertahajud, memohon kepada Yang Maha Kuasa kiranya bisa diberi jalan, atau petunjuk, atau perkabaran melalui mimpi. Dan malam itu aku benar-benar mimpi. Aku mimpi bertemu ibuku. Ia tersenyum dan berkata, "Kamu akan ke Amerika." Saat terbangun, aku kaget. Waktu sudah shubuh. Maka akupun shalat shubuh. Selesai shalat aku terus memikirkan makna mimpiku.

Siangnya aku mantapkan, aku lupakan UI. Aku tidak perlu mencari uang kuliah yang separuh. Padahal, di BPPT test baru diselenggarakan 2 kali. Masih ada 2 tes lagi, yaitu tes kesehatan dan screening test. Dan yang akan diterima, kabarnya, hanya 50 orang, dari sisa 150-an orang setelah tes tahap 2. Aku benar-benar bimbang. Tapi akhirnya, sekali lagi aku mantapkan. Lupakan UI. Kalau nanti BPPT juga tidak lolos, maka aku putuskan untuk bekerja dan tahun depan ikut Sipenmaru lagi.

Tapi, sambil menunggu tes-tes itu, aku tetap berangkat ke penataran P4 sampai selesai, bahkan sampai pada hari-hari awal perkuliahan, di kampus UI Depok. Kebetulan tahun 1987 adalah tahun pertama UI pindah ke Depok. Aku juga sudah menemui kakak kelasku di kampung yang aktif di HMI-UI.

Akhirnya, hari penantianpun tiba. Setelah 4 kali tes, diumumkan daftar final yang berhak mendapat beasiswa dari OFP-BPPT. Ada 56 orang yang dinyatakan lulus seleksi. Aku lulus di urutan ke 32. Urutan pertama dan kedua tetap ditempati oleh urutan pertama dan kedua dalam daftar 1200 orang itu.

Setelah dinyatakan lulus, sebelum ditentukan negaranya, kami diwajibkan ikut tes TOEFL (Test of English as a Foreign Language). Hasilnya cukup mengecewakan, produk ngapak-ngapak ini hasilnya jeblok, di bawah 400. Aku sempat berpikir aku akan dikirim ke Jepang. Tetapi, ketika penentuan negara diumumkan, aku masuk dalam daftar yang dikirim ke Amerika. Persis seperti dalam mimpiku.

5 comments:

A Y said...

Fami ..
saya ikuti kata demi kata .. tetapi memang Fami pantas mendapatkan apa yang Fami inginkan ..
Pintar , Ulet , Rajin , berani bermimpi .. karena banyak orang yang sudah sangat sukses berangkat dari impian, bagaimana orang mau jatuh dan kemudian bangun berkali kali karena impian yang dikejar ..
All the best

martin said...

mas Fahmi......

Membaca tulisan mas, menggugah semangat saya lagi untuk terus berjuang, mewujudkan cita-cita.

Terimakasih dan salam kenal,

Martin Choirul Fatah

Mahadzira said...

Salam
Alhamdulillah Fahmi
Kisah kamu menarik dan banyak kesamaan dengan saya.
Kenalkan saya Mahadzira dari Malaysia
blog saya http://www.mahatma-mahathir.com

Yahoo mesgr : mahadzira_al_baqi
Tolong beritahu saya nama bapa dan ibu kamu...
kamu ada kaitan atau tidak dengan wali songo.....
salam fahmi

Marsudi W. Kisworo said...

Eehh, nggak sengaja ketemu mas Fami di sini. Lama nggak ketemu, kangen juga nih.
Ceritanya ttg ke Amerika sangat inspiratif, kalau diijinkan saya akan pakai cerita ini di training2 saya ya mas.
Salam untuk semuanya

Marsudi W. Kisworo
http://marsudi.wordpress.com

Dimaspriyo said...

Menarik kisah nya, aku pernah mimpi berjalan masuk di dalam masjid yg ada di atas langit, aku di ajak berjalan di masji dan beri penjelasan kalau masjid ini besok yg bis menempati para nabi para ulama yg ahli ibadah, kalau kebetulan seorang muslim yg ahli tapsir mimpi kira2 apa ya maknanya mimpi itu ?
wasallam