Monday, September 24, 2007

Mimpi Bertemu Almarhum

Setelah anak-anak berangkat sekolah, seperti biasa aku kembali melanjutkan tidur. Pada hari-hari biasa (di luar Ramadhan), aku biasa tidur pada pukul 2 atau 3 dini hari, terbangun pukul 5.30 atau 6, lalu tiduran atau menyiram tanaman di halaman depan dan belakang, sambil menunggu anak-anak berangkat sekolah. Setelah anak-anak berangkat ke sekolah, baru aku melanjutkan kembali tidurnya.

Aku tidak mengidap penyakit insomnia, penyakit susah tidur. Aku hanya menggeser jadual tidur. "Berangkat kerja" alias keluar rumah selalu sesudah jam 12 siang, pulang paling cepat jam 21-an. Jaman masih muda dulu, pulang ke rumah bisa di atas jam 12 malam. Sekarang sudah agak tua dan cepat lelah, terutama 5 tahun terakhir ini, jadi pulang juga dipercepat :)

Tadi pagi, dalam tidurku, aku bertemu dengan sejumlah almarhum: Mbah Nirah, uwak Muhaimin, uwak Hayinah, dan uwak Hindun. Uwak adalah sebutan untuk pakde atau bude, biasanya digunakan oleh orang Sunda. Bumiayu, termasuk wilayah Jawa Tengah yang berdekatan dengan perbatasan Jawa Barat, memiliki beberapa kosa kata yang berasal dari bahasa Sunda.

Mimpinya cukup lucu. Aku menemui mereka dalam rangka meminta ijin untuk menyiapkan perang melawan Jepang. Ketika aku masuk rumah uwak Hayinah, yang letaknya sebelah Barat rumah Mbah Nirah, aku menemui para pakde dan bude sedang berkumpul di sana. Aku menyalami sambil mencium tangan mereka satu per satu. Sambil menangis aku memberitahu kalau aku harus pergi berperang melawan Jepang.

Sesudah menemui pakde dan bude, aku masuk ke rumah nenek yang ada di sebelah rumah uwak Hayinah. Rupanya pasukan sudah berkumpul di rumah Mbah Nirah sedang rapat persiapan perang. Lalu aku menemui Mbah Nirah, menyalami sambil mencium tangannya.

***
Saat aku menulis artikel ini, aku masih terus merenung apa makna dari mimpi tersebut. Aku orang yang rasional tetapi suka percaya dengan pesan-pesan gaib. Sesuai kisah Nabi Yusuf, bisa jadi, mimpi itu memiliki makna dan pesan untuk sebuah peristiwa yang akan terjadi.

Apakah aku sudah mendapat undangan untuk berkumpul dengan mereka? Atau ada tugas penting yang akan segera dipercayakan kepadaku?

Yang pasti, saat tulisan ini hampir selesai, istriku berteriak dari bawah, burung kenari kesayanganku ditemukan mati di dalam sangkarnya dikerubuti semut merah. Padahal, kata sopirku, Nono, tadi pagi masih hidup dan masih berkicau dengan riang.

Ya sudah, umur burung itu sudah sampai. Tidak perlu ada yang dimarahi karena lalai merawat burung itu. Kebetulan adikku yang biasa merawat burung itu tadi pagi harus pulang ke Bumiayu.

Apabila telah datang ajal menjemput, maka tidak bisa diundur barang satu detik, atau bahkan satu mili-detik, juga tidak bisa dimajukannya barang sesaat sekalipun.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun!

No comments: