Wednesday, April 23, 2014

Pemimpin Harapan Bangsa

Tulisan ini pernah dimuat di tabloid internal Gerindra dan diupload ke Notes Facebook pada 31 Agustus 2012 jam 7:08pm

***
Indonesia Raya membutuhkan pemimpin yang berani melawan dominasi kepentingan asing yang sudah lama bercokol di republik ini. Itulah yang saya percayai sejak lama, justru setelah saya pulang dari Amerika Serikat sesudah menyelesaikan studi saya di bidang engineering di sana. Dan sudah sejak awal 1990-an, saya melihat sosok Prabowo Subianto sebagai personifikasi pemimpin yang saya impikan mampu membawa Indonesia keluar dari rantai kolonialisme yang masih terus berlanjut di republik ini melalui institusi-instusi baru mereka seperti World Bank dan IMF, setelah kolonialisme dalam bentuk negara ditabukan dalam hubungan internasional.

Dalam gagasan itulah saya bertemu dengan Prabowo Subianto, dan saya rela menjadi pendukung rasionalnya. Fakta politik memperlihatkan, dalam perjalanannya ada beberapa isu yang membelit tokoh harapan saya ini, terutama isu penculikan yang sampai sekarang masih saja dianggap belum selesai meski secara militer dan hukum sudah selesai sejak lama. Masih ada pihak-pihak yang mencoba mengungkit kasus itu hanya untuk sekedar menjadi alat untuk menjatuhkan. Semua itu tidak menyurutkan saya dalam memberikan dukungan dan harapan akan munculnya pemimpin ideal bagi republik ini.

Dalam berbagai forum, terutama forum-forum di dunia maya yang sudah saya ikuti sejak tahun 1990an, seperti mailing-list (milis) Apa Kabar dan Isnet, dan belakangan di tahun 2000an muncul milis-milis dari dalam negeri seperti milis Kahmi_Pro yang beranggotakan alumni HMI Profesional dan milis Muhammadiyah Society, saya kerap menghadapi berbagai hujatan yang dialamatkan kepada sosok harapan saya itu. Tanpa ragu, saya sering tampil menjelaskan duduk perkaranya, serta memberikan pembelaan dari perspektif saya.

***
Ketika tahun 2008 beberapa rekan aktifis mengajak saya bergabung mendirikan Partai Gerindra, tanpa ragu saya bergabung. Menghadapi tantangan mendirikan partai yang harus mendapatkan pengesahan dari pemerintah dalam waktu yang singkat, selama 6 bulan harus mampu mendirikan sejumlah DPD dan DPC yang disyaratan undang-undang, saya tidak ragu dan yakin mampu memberikan bantuannya, meski pada saat itu banyak pihak-pihak yang meragukan –alhamdulillah yang awalnya meragukan itu kini sudah bisa ikut bersama-sama menikmati partai Gerindra.

Karena itu, terasa sangat lucu ketika tiba-tiba ada vonis kepada saya sebagai “orang yang tidak loyal” terhadap Prabowo Subianto dan Gerindra. Saya merasa ada yang salah dengan kalimat “loyal” di situ. Saya justru berpandangan, loyalitas harus dilandaskan pada sesuatu yang lebih prinsipil, seperti cita-cita, ide dan gagasan. Seperti sering disampaikan oleh Prabowo Subianto sendiri, loyalitasnya adalah kepada merah putih –sebagai gagasan—bukan kepada rezim berkuasa.

Jika kita loyal terhadap rezim, maka bisa saja terjadi penyelewenangan. Apalagi kita semua tahu, power tend to corrupt, kekuasaan cenderung korup atau disalahgunakan. Banyak penguasa tampil dengan cita-cita mulia, akan tetapi setelah duduk bukan cita-cita mulianya yang mengarahkan jalannya kekuasaan yang telah diraihnya, tetapi ambisi kekuasaan yang disulut oleh bumbu para pembisiknya itulah yang menentukan. Tetapi jika kita setia kepada cita-cita, ide, dan gagasan, maka kita akan senantiasa berada pada jalan yang benar.

sumber: https://www.facebook.com/notes/fami-fachrudin/pemimpin-harapan-bangsa/10151080985513778

No comments: