Thursday, April 12, 2007

Teringat Kebaikan Ibu

Setiap mendengar lagunya Madonna yang berjudul "O Father", aku justru teringat pada ibuku. Cobalah perhatikan sebagian liriknya:

(chorus)
Oh father you never wanted to live that way
(Wahai ayahanda, engkau tidak bermaksud hidup dengan cara itu)
You never wanted to hurt me
(Engkau tidak pernah menginginkan untuk menyakitiku)
Why am I running away
(Mengapa aku melarikan diri menjauh darimu)

(repeat)

Maybe someday
(Mungkin suatu hari)
When I look back Ill be able to say
(Kalau aku melihat ke belakang, aku akan sanggup berkata)
You didn't mean to be cruel
(Engkau tidak bermaksud jahat)
Somebody hurt you too
(Seseorang telah menyakitimu juga)

(chorus)

Mengapa aku teringat kepada ibuku? Karena aku mengalami hal yang kurang lebih sama. Ketika aku kecil dulu, akupun mengalami kekerasan karena ibuku sering memukulku. Ibu suka memukul punggung, tangan, atau pahaku dengan sapu atau perkakas dapur lain yang ada ditangannya. Ibu melakukan itu kalau lagi kesal kepadaku. Konon, kata ibu, waktu kecil aku anak yang paling bandel. Ibuku menanganinya dengan cara yang sangat keras, kebalikan dari ayahku yang sangat lembut dan hampir tidak pernah memukul kepada anak-anaknya.

Aku tahu, nenek dari ibu memang sangat galak. Sewaktu ibuku masih kecil, mungkin ia juga mengalami kekerasan dari ibunya (nenekku). Ini mungkin hanya semacam efek psikologis atau hasil pendidikan yang sudah tertanam di alam bawah sadar: Kabandelan anak harus ditangani secara keras. Hal yang sama hampir terulang pada diriku. Aku suka memukul Shadra kalau sehabis bermain PS selama berjam-jam kemudian tidak mau shalat dengan alasan capek. Hanya saja saya terus berusaha menahannya, terutama sejak membeli buku cara mendidik anak berjudul "Jangan Pukul Aku" :) :) Ternyata, dengan membelai kepalanya dan menuntun ke kamar mandi untuk berwudlu, Shadra mau shalat meski habis bermain PS selama berjam-jam.

Aku tidak punya maksud jahat ketika memukul Shadra. Aku juga tahu, ibuku tidak bermaksud jahat ketika dulu memukulku. Nenekku juga tidak bermaksud jahat ketika dulu memukul ibuku.

Maybe someday
(Mungkin suatu hari)
When I look back Ill be able to say
(Kalau aku melihat ke belakang, aku akan sanggup berkata)
You didn't mean to be cruel
(Engkau tidak bermaksud jahat)
Somebody hurt you too
(Seseorang telah menyakitimu juga)

***

Belakangan aku semakin memahami, bahwa kehidupan ibu sewaktu kecil memang sangat keras. Ibu menikah pada umur 15 tahun dengan ayahku. Pernikahan itu mungkin membahagiakannya; ibu yang berasal dari pinggiran Bumiayu (desa Kalierang) dan dari keluarga miskin bisa menikah dengan ayahku yang orang kota (desa Dukuhturi) dan termasuk keturunan "ambtenaar" di Bumiayu.

Sebelum menikah, di usianya yang masih sangat kecil, ia sudah harus bekerja keras membantu orangtuanya. Ibu suka bercerita, bagaimana dulu ia menggendong keranjang besar, mungkin jauh lebih besar dari dirinya, bekerja memungut botol-botol kosong yang dilempar para pelaut di pantai Cilacap, sejak dini hari, untuk kemudian dijual kepada perusahaan (home industry) kecap.

Setelah menikah dengan ayahku, kehidupan ekonominya ternyata tidaklah berubah. Pada tahun-tahun pertama ketika masih tinggal bersama nenek (dari ayah), mungkin ia merasakan sedikit kebahagiaan tinggal bersama keluarga besar yang dianggap berada. Ayahku termasuk anak yang paling disayang oleh nenek; meski akibatnya cukup buruk, ayahku tidak begitu lincah dalam berusaha karena terlalu dimanja sejak kecil. Ibuku pun turut merasakan kasih sayang nenekku dan "kehidupan mewah" keluarga besar nenekku yang dulu pernah memiliki tradisi memotong kambing setiap hari Jum'at sewaktu kakekku masih hidup. Ibu masih suka bercerita, bagaimana dulu nenekku menyisihkan buah-buahan atau makanan kesukaan ayah dan ibuku. Dengan bangga ibu juga sering mengatakan, kalau sedang makan bersama, nenekku sering mendoakan dirinya, "Khawa, besok kamu juga akan memiliki meja besar seperti ini yang berisi penuh dengan makanan," Ibuku menganggap, itu semacam foretelling atau weruh sadurunge winarah (melihat sebelum mengetahui).

Setelah tinggal di rumah sendiri terpisah dari nenek, ketika ayahku gagal menjalankan bisnis pembuatan sarung batik sesuai dengan pendidikannya dulu di Yogya, ketika ayahku harus bekerja dengan kakaknya, ketika hampir setiap tahun atau setiap dua tahun sekali anaknya terus bermunculan hingga memiliki 11 anak karena ayahku mengharamkan Keluarga Berencana, ketika harus kembali membantu roda ekonomi keluarga seperti masa kecilnya membantu roda ekonomi orangtuanya, ketika hidup terus semakin bertambah berat, mungkin saja ibuku mengalami tekanan mental yang sangat luar biasa. Itu yang aku pahami mengapa dulu ibuku suka memukulku.

Selebihnya, ibuku adalah seorang yang sangat hebat. Ibuku dikenal sebagai orang yang sangat penyabar. Istilah dalam Al-Quran yang paling pas barangkali adalah ungkapan "fashabrun jamiil" yang diucapkan Nabi Yaqub. Semua saudara, baik dari sisi ayahku maupun ibuku sendiri, mengakui kehebatan ibuku dalam hal ini, yang senantiasa bersabar dan setia mendampingi ayahku. Satu-satunya sikap kasar yang muncul adalah kekerasan terhadap anaknya yang nakal-nakal, yang mungkin dianggapnya mengganggu ketenangan dan konsentrasinya, yang menambah ruwet pikirannya.

Bayangkan, demi anak-anaknya agar bisa jajan dan makan setiap hari, ia rela bertahun-tahun tidak bisa menikmati tidur di malam hari. Ia sudah harus bangun sejak jam 1 malam hingga jam 6 pagi untuk membuat jajanan yang akan dititipkan di warung-warung sekolah. Atas anjuran ayahku, ibuku juga tidak pernah ikut ngumpul bersama wanita-wanita lain di kampung yang biasanya dilakukan di siang atau sore hari untuk ngerumpi kejelekan tetangga lainnya. Hampir seluruh waktu yang dimiliki ibuku, dihabiskan di dalam rumah untuk mengurus anak-anak yang terus bertambah dari tahun ke tahun hingga berjumlah 11 anak dan membantu ayahku mencari uang tambahan dari berjualan kue. Ya, berjualan kue dilakukan hanya untuk menyambung hidup. Keuntungannya hanya bisa untuk membeli beras untuk di makan pada hari itu juga, dan anak-anak bisa makan kue sepuasnya di rumah.

Atas seluruh kebaikan ibu, aku ingin selalu berusaha menyenangkan hati ibu, terutama setelah aku bisa bekerja dan mencari uang. Membangun rumah buat orangtua dan memberangkat haji, mungkin baru setara dengan kasih sayang ibuku yang dilimpahkan pada satu malam saja. Sementara, ibu rela menderita demi anak-anak, tidak pernah tidur di malam hari selama bertahun-tahun. Sanggupkah aku membalasnya?

Friday, April 06, 2007

Teringat Kebaikan Ayah

Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba aku teringat ayahku almarhum. Momen yang aku ingat adalah ketika aku berumur sekitar 7 tahun, ketika aku membanting pistol mainan yang baru saja dibelikannya dari sebuah toko. Pistol itu kubanting di depan ayahku yang sedang menerima tamu. Pistol itu pecah berantakan. Pistol itu kubanting karena yang aku mau bukan pistol, tetapi pedang mainan yang harganya memang lebih mahal, yang kulihat beberapa hari sebelumnya di toko kelontong "Serayu".

Dengan sabar ayah membimbingku dan berjanji akan membelikan pedang mainan yang kumaui. Tanpa marah sekalipun. Ketika tamunya pergi, aku benar-benar diajaknya ke toko "Serayu" membeli pedang mainan tersebut. Kemudian aku tahu, uang untuk membeli mainan itu ternyata uang belanja yang seharusnya diserahkan kepada ibuku.

Aku teringat peristiwa itu menjelang sujud terakhir shalat dzuhur. Aku menangis dalam shalat itu, teringat kenakalanku di masa kecil dan kesabaran ayah menghadapiku.

Selesai shalat, aku benar-benar menghayati dengan sedalam-dalamnya doa yang sering aku panjatkan: Ampunilah kedua orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Mereka benar-benar sangat menyayangiku. Sangat kurasakan. Dengan deraian air mata, akupun mengulang-ulang doaku dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab silih berganti dengan suara lirih: sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.

***

Dua jam kemudian, aku mendengar kabar, adikku Salman Farisi mendapat kecelakaan pada saat mengendarai sepeda motor. Faris, panggilannya, adalah salah satu anak kesayangan ayahku. Ketika ayahku masih hidup, aku sering protes, "Kenapa anak bandel itu sangat disayangi?" Ayahku menjawab, "Kalau kamu nanti punya anak, kamu akan tahu."

Ia bertabrakan sekitar jam 1 siang, hampir bersamaan dengan saat saya shalat dzuhur. Dari luar seperti tidak ada luka parah, selain memar karena benturan. Tetapi setelah 2 jam di rumah, Faris muntah darah. Karena itu, adikku yang lain menghubungiku karena Faris harus dilarikan ke rumah sakit.

Mungkinkah ayahku yang sudah almarhum memberi sinyal kepadaku, agar aku tetap memberi perhatian kepada Faris meski kecelakaan yang ia alami karena kebandelannya? Sebelum keluar membawa sepeda motor untuk menghadiri sebuah acara di desa lain yang berjarak sekitar 20KM dari rumah, ibuku sudah melarang untuk pergi. Tapi Faris malah membentak ibuku dan tetap berangkat. Ini benar-benar misteri kegaiban. Diingatkannya aku persis pada momen aku membanting pistol mainan di depan ayah pada saat menerima tamu.

Tentu saja aku harus merawat Faris. Kebaikan yang aku berikan kepada adik-adikku, meski kulakukan dalam seluruh hidupku, masih belum cukup untuk membalas seluruh kebaikan ayah kepadaku semasa ia masih hidup.