Monday, April 26, 2010

Obat Nomor 13

Diriwayatkan oleh: Ami Mahzum Baisa

Cerita ini tentang jamaah dan baudeh Tegal. Dalam kultur pantura, tentu saja kisah ini bukan pelecehan rasial atau suku, tetapi lebih menggambarkan pembauran, dan wujud persaudaraan ras dan suku. Hanya mereka yang sudah menyatu yang bisa bercanda sesamanya.

Alkisah, di Tegal ada penjual obat, seorang jamaah, istilah yang merujuk kepada mereka keturunan Arab di Indonesia. Ia penjual obat yang terkenal seantero Tegal dan sangat berani. Di depan tokonya tertulis: "Mengobati segala macam penyakit. Tidak sembuh uang kembali 3x lipat!!"

Hebat toh? Jamaah itu berani menjamin obat yang dijual pasti menyembuhkan; tidak sembuh dia berani kembalikan uangnya hingga 3 kali lipat. Dan memang, sudah bertahun-tahun jualan obat, jamaah ini tidak pernah ada tuntutan. Bisnisnya lancar belaka. Alias, obatnya memang manjur.

Hingga akhirnya datanglah masa krisis ekonomi nasional. Harga-harga melambung. Banyak karyawan di-PHK. Di Tegal sendiri, toko-toko banyak yang gulung tikar. Mereka tidak bisa menghindar dari pengaruh krisis. Termasuk ada seorang baudeh (sebutan China oleh para jamaah), yang tidak luput dari dampak krisis.

Kesibukan melayani pembeli di tokonya hilang sudah. Ia sekarang banyak menganggur karena toko sepi. Untuk menghilangkan suntuk, ia kerap keliling kota Tegal sekedar untuk menghilangkan stress atau mencari peluang-peluang baru. Banyak hal baru dia temui. Maklum, selama ini, ia hampir tidak punya waktu untuk melihat kota Tegal.

Sejak kecil ia sibuk di toko orangtuanya, lalu mewarisi melanjutkan usaha leluhurnya itu. Lingkungan terjauh yang ia kenal mungkin hanya beberapa rumah di kanan dan kirinya --hampir semua arsitektur rumah-toko China di daerah Jawa sama, di depan digunakan sebagai toko, di belakang sebagai rumah tempat tinggal. Di samping, tentu saja, ia mengenal para langganan tokonya.

Ketika sepeda motornya melintas di depan toko obat tadi, ia kaget. "Hebat sekali ini toko obat," pikirnya. Baudeh tadi heran dengan keberanian toko obat menjamin pengembalian 3 kali lipat jika tidak sembuh. Didorong rasa penasaran, dia pinggirkan motornya, lalu ia coba untuk tengok ke dalam. Baudeh ini makin heran. Di dalam toko ramai sekali pembelinya.

Karena baudeh ini dari kecil memang dilatih berbisnis, seketika otak bisnisnya muncul ide. "Ini peluang emas. Daripada nyari duit susah, toko sepi, ini dia, gua bisa akalin nih orang Arab," kata baudeh pada dirinya.

Segera baudeh ini bergegas pulang. Iapun menyusun rencana. Ia ingin membeli obat yang termahal. Ia minta masukan pada istrinya. Akhirnya ia dapat ide: ia akan pura-pura sakit mati rasa. Mulutnya tidak bisa merasakan apa saja. Manis, pahit, kecut, pedas, apapun, tidak bisa dirasakan oleh mulutnya.

Keesokan harinya ia datangi toko obat itu. Beberapa menit sebelum bicara dengan penjual obatnya, ia pelajari dulu situasinya. Termasuk mempelajari cara memanggil penjualnya, agar komunikasi lebih lancar. Kalau di tokonya, orang Jawa dengan akrab memanggil dirinya dengan sebutan koh (koko) atau bah (babah). Di toko ini, orang Jawa memanggilnya bib (habib).

Setelah mantap, ia dekati penjualnya. Dengan akrab dia langsung konsultasi.
"Bib, saya punya penyakit berat, apa ente punya obatnya?" kata baudeh.
"Kan sudah ana tulis, segala penyakit," kata jamaah.
"Saya mau obat yang termahal, biar cepat sembuh," kata jamaah.
"Oo ada, cukup 3 kali makan, dijamin sembuh. Sekali makan Rp 5 juta," kata jamaah.

Mata baudeh berbinar-binar. Ia membayangkan, 3 kali Rp 5 juta berarti total biaya obat Rp 15 juta, lalu ia pura-pura tidak sembuh, maka ia bisa dapatkan Rp 45 juta.

"Tapi bib, apa jaminannya? Kalau 3 kali minum obat tidak sembuh habib harus kembalikan uang saya sebanyak 45 juta," tanya baudeh. Baudeh memang terkanal tidak mau rugi dan sangat hati-hati.
"Jaminan ada. Kalau mau sertifikat toko ini," jawab jamaah.

Akhirnya deal. Jamaah memperlihatkan sertifikat tokonya, baudeh mengeluarkan uang Rp 5 juta. Begitu melihat uang Rp 5 juta, penjual obat segera memerintah pegawainya, "Paijin, ambil obat nomer tigabelas!"

Setelah Paijin serahkan obatnya, jamaah meminta baudeh membuka mulutnya. Lep.. Obat itupun dengan cepat berpindah dari sendok ke mulut baudeh. Tidak ada sedetik, baudeh teriak. "Bbwah.. Ini sih tahi ayam!" teriak baudeh sambil memuntahkan obat tadi.

"Naah.. Mulutmu sudah sembuh!" kata jamaah sambil mengambil uang yang tergeletak di atas meja.

Baudeh itupun ngeloyor pergi. "Sial, mau tipu orang Arab malah kena tipu," gerutunya sepanjang jalan.

Sampai di rumah istrinya menghibur. Baudeh itu disarankan untuk datang lagi dengan penyakit yang lebih berat dan obat yang lebih mahal, agar uangnya bisa kembali dan untungnya jauh lebih besar.

Keesokan harinya ia datang lagi ke toko obat. Kali ini dandanannya ia ganti, biar penjual obat tidak mengenalinya. Ia bahkan memakai wig biar potongan rambutnya berbeda sama sekali.

"Bib, ana punya penyakit maha berat," kata baudeh mencoba memakai istilah "ana" untuk kata ganti "saya" biar tambah akrab.
"Nda masalah, ana sembuhkan nanti. Apa sakitnya?" tanya jamaah.
"Ana ini punya penyakit pelupa," kata baudeh.
"Ana naruh motor lupa. Janji sama orang lupa. Sampai istri ana lupa," lanjut baudeh menjelaskan penyakitnya.
"Oo bisa, cukup 3 kali makan, dijamin sembuh. Sekali makan Rp 10 juta," kata jamaah.
"Kalau 3 kali ana khawatir tidak sembuh bib, penyakit ana berat sekali. Lima kali deh" kata baudeh sambil membayangkan 10 kali 5 kali 3 alias 150juta.

Jamaah mengambil kalkulator. Ia balikkan badannya dari hadapan baudeh. Jari-jarinya segera menari di atas kalkulator. Mungkin ia menghitung untung dan ruginya. Selesai menghitung ia balik badan lagi dan berkata, "Setuju, lima kali ya!"

Maka baudehpun mengeluarkan uangnya, dan tidak lupa jamaah mengeluarkan sertifikatnya. Setelah uang di atas meja, jamaah memanggil pegawainya. "Paijin, ambilkan obat nomor 13," perintah jamaah.

Baudeh langsung berteriak. "Jangan bib, jangan obat nomor 13, itu tahi ayam," kata baudeh. "Naahh, ente belum ana kasih obat sudah sembuh," kata jamaah sambil mengambil uang yang 10 juta itu.

Baudehpun ngeloyor dan tidak pernah datang lagi ke toko obat itu.

:))

Tulisan ini juga tersedia di:
http://www.facebook.com/notes/fami-fachrudin/obat-nomor-13/383089748777
Published: Friday, April 9, 2010 at 8:10am

Orang Tegal Jadi Gorila

Dikarang oleh: Ami Mahzum Baisa

Alkisah, kerajaan Saudi Arabia memutuskan membangun kebun binatang. Kerajaan ingin agar warganya tidak hanya mengenal onta, tetapi bisa juga mengenal berbagai jenis binatang lainnya yang ada di muka bumi ini, seperti jerapah, macan, badak, kuda nil, ular, berbagai jenis burung, monyet hingga gorila. Di samping itu, kerajaan juga ingin menghemat devisa, karena orang Saudi kalau mau melihat kebun binatang biasanya mereka pergi ke San Diego di Amerika Serikat, atau pergi ke berbagai kebun binatang terkenal di Eropa, bahkan terkadang sampai ke Brazil.

Untuk membangun kebun binatang terbesar di Timur Tengah, didatangkanlah tenaga kerja dari berbagai negara, terutama dari negara-negara yang selama ini memasok tenaga kerja di Saudi seperti dari Philipina, India, Pakistan, termasuk dari Indonesia. Karena dari Indonesia terutama dibutuhkan tukang batu dan tukang kayu, maka yang banyak dikirim adalah orang Tegal.

Singkat kata, selesailah pembangunan kebun binatang tersebut. Rencananya, seminggu lagi kebun binatang akan diresmikan. Raja Abdullah sendiri yang akan meresmikan dan memotong pitanya. Berbagai binatang segera didatangkan dari berbagai penjuru dunia untuk mengisi kebun binatang tersebut. Kerajaan membentuk panitia atau menunjuk penanggungjawab tersendiri untuk setiap jenis binatang.

Hingga kurang 1 hari, petugas kerajaan yang bertanggungjawab untuk mengisi kandang gorila terlihat kelabakan. Mereka belum bisa mengisi kandangnya. Gorila yang sedianya didatangkan dari Indonesia masih tertahan di pelabuhan India karena cuaca laut yang buruk. Ributlah di antara panitia gorila itu. Mereka bingung, bagaimana caranya mendatangkan gorila dalam 1 hari?

Akhirnya ada yang usul, untuk sementara mereka bisa memakai orang yang mengenakan kostum gorila. Maka hari itu juga langsung diadakan sayembara. Para tenaga kerja yang masih menunggu jadual pulang dikumpulkan kembali. Panitia pun mengumumkan sayembara tersebut, bahwa siapa yang bisa akting seperti gorila akan diberi peran sebagai gorila selama beberapa hari, sampai gorila yang sebenarnya datang. Panitia menjanjikan hadiah yang cukup menggiurkan.

Maka ramailah orang ikut sayembara itu. Singkat kata, orang yang bisa memerankan akting dan gerak-gerik gorila --dari cara menggaruk, jumpalitan, naik pohon, gelantungan, hingga goyang pantat-- dengan sempurna akhirnya bisa ditemukan. Dia adalah seorang tenaga kerja Indonesia asal Tegal. Kata orang Tegal, "Sing paling lemes gerakane."

Esoknya, pada hari peresmian, gorila Tegal itupun mulai beraksi. Kandangnya persis bersebelahan dengan kandang macan. Banyak penonton puas melihat berbagai atraksi yang dipertontonkan oleh gorila, dari mengupas pisang, menggoyang ekor atau pantatnya, hingga gerakan-gerakan lucu lainnya.

Sesekali gorila mendekati kandang macan, setelah dekat badannya berbalik dan pantatnya digoyang-goyang di depan muka sang macan. Maksudnya gorila mungkin meledek sang macan. Atraksi ini termasuk yang sangat disukai oleh para penonton.

Pada hari ke-3 sejak kebun binatang dibuka, datanglah musibah. Petugas yang biasa memberi makan binatang lupa menutup pintu sekat yang memisahkan gorila dan macan. Karena antara kandang gorila dan macan sekatnya terbuka, masuklah si macan ke dalam kandang gorila.

Sambil menggeram, macan berusaha mendekati gorila. Gorila yang diperankan orang Tegal itu ketakutan yang amat sangat. Gorila berusaha lari ke pojok depan. Macan ikut mendekat ke pojok depan. Gorila lari ke belakang, macanpun ikut lari ke belakang. Macan itu terus menggeram sambil berusaha mendekati gorila. Sampai akhirnya gorila kelelahan dan pasrah di salah satu sudut kandang.

Dalam kepasrahan, gorila Tegal berteriak lirih: "Ya Allah, iloken aku pan mati dipangan macan nang Saudi?"1) Saat macan mendekat, dari mulut macan tiba-tiba keluar suara: "Raimu Tegale nang endi? Aku Kasan kiye"2).. Setengah lemes dan kaget gorila Tegal langsung ngomong: "Ya Allah, raimu tah kunyuk nemen Saan San. Kosih lemes aku pan mati, raimu esih ngejar bae. Aku Urip Dobal kiye."3)

Setelah agak tenang Urip bertanya, "San, Somad nang endi?" Kasan menjawab, "Somad gering dadi kethek nang sebelahe zarofah. Somad lemu dadi kuda nil, kae senengane kecupakan nang banyu. Aziz Lebaksiu dadi komodo. Kiye meh pan 60% wong Tegal kabeh sing ngisi. Kecuali ula, manuk sing angel ditiru. Zarofah ya angel ditiru, gulune kedawan."4)


Terjemahan:
1) Ya Allah, masak saya akan mati dimakan macan di Saudi?
2) Kamu Tegalnya di mana? Saya Kasan nih
3) Ya Allah, kamu memang kunyuk Saan San. Saya sampai mau mati lemas, kamu masih ngejar saja. Saya Urip Dobal nih.
4) Somad kurus jadi monyet di sebelah jerapah. Somad gemuk jadi kuda nil, dia kan senengnya main di air. Aziz Lebaksiu jadi komodo. Ini hampir 60% orang Tegal yang mengisi. Kecuali ular, burung yang sulit ditiru. Jerapah juga sulit ditiru, lehernya kepanjangan.

Tulisan juga bisa dilihat di:
http://www.facebook.com/notes/fami-fachrudin/orang-tegal-jadi-gorila/381045443777
Published: Friday, April 2, 2010 at 1:26am

Sukun Obat Liver, Jantung, dan Ginjal

Sakit kuning atau penyakit lever adalah penyakit yang mematikan, namun anda jangan takut, penyakit ini gampang dan mudah disembuhkan.

Ambillah satu buah sukun, belah menjadi 4 potong dan direbus sampai mendidih, minumlah sebanyak mungkin air rebusan tersebut dan bila perlu setiap minum pakailah air rebusan tersebut selama dua minggu atau lebih maka penyakit lever akan sembuh.

Jika buah sukun susah didapatkan maka daun sukun juga sangat berkhasiat menyembuhkan lever, caranya adalah ambil 10 helai daun sukun yang sudah tua warnakuning, rebus sampai mendidih seperti warna teh, berikan dan minumkan ke penderita air rebusan selama 2 minggu maka sakit lever tersebut sembuh, mudah-mudahan resep ini dapat membantu keluarga yang membutuhkan.

Sementara itu, ramuan untuk penyakit jantung, caranya ambillah satu lembar daun sukun tua yang masih menempel di pohon sebab khasiat kadar zat kimianya sudah maksimal. Daun tersebut dicuci bersih lalu dijemur hingga kering dan direbus dengan 5 gelas air. Ketika tinggal separuh, tambahkan air lagi hingga mencapai volume 5 gelas. Setelah mendidih, ramuan diangkat dan disaring. Minum setiap hari, rebusan air itu harus habis hari itu juga tidak bisa disisakan untuk esok.

Untuk penyakit ginjal, ambillah 3 helai daun yang tua, cuci bersih dan dirajang. Hasil rajangan dijemur hingga kering, rebus dalam 2 liter air sampai tinggal separuhnya. Lalu, tambahkan air lagi satu liter biarkan sampai mendidih, angkat dan saring. Minum setiap hari, air rebusan tersebut tidak dapat diesokkan.

Catatan:
Seorang kawan divonis harus operasi jantung karena fungsi jantungnya hanya 46% (orang normal tapi merokok 56% dan tidak merokok/sehat fungsi jantungnya di atas 60% --di bawah 50% diduga ada kelainan spt penyumbatan). Dua minggu sebelum operasi dianjurkan seseorang minum rebusan daun sukun. Ia ikuti anjuran tersebut. Saat datang ke dokter untuk operasi, kondisi jantungnya dicek ulang, ternyata sudah sembuh, fungsi jantungnya mencapai 66%. Subhanallah! Saya percaya dengan cerita kawan itu, insya Allah sanadnya shahih :)

Untuk itu, saya search ke google, dan ditemukan beberapa catatan tentang khasiat sukun. Hasilnya saya hadirkan untuk kawan-kawan.

Untuk metode peracikan obat, kawan saya yang terkena jantung di atas menggunakan cara yg sedikit berbeda. Cara dia adalah:

Ambil daun sukun, diiris-iris selebar 1-2 cm, diangin-anginkan hingga nampak kering (bisa dibuat dalam jumlah banyak untuk persediaan). Ambil irisan daun sukun yang kering tadi secukupnya, digodok sampai mendidih dan airnya menguning seperti warna air teh, lalu disaring, dan diminum setelah hangat --kalau diminum saat panas mulutnya bisa rusak alias mlonyod kata orang Bumiayu :))

Selamat mencoba. Semoga berkah!

Tulisan ini juga tersedia di:
http://www.facebook.com/notes/fami-fachrudin/sukun-obat-liver-jantung-dan-ginjal/317935048777
Published: Saturday, February 20, 2010 at 10:37pm