Saturday, September 08, 2007

Selamat Datang Ramadhan

Kamis depan, 13 September 2007, insya Allah kita akan mamasuki bulan Ramadhan. Nampaknya tidak ada pihak-pihak yang berselisih dalam penentuan awal Ramadhan tahun ini, semua menentukan tanggal tersebut sebagai awal Ramadhan.

Seperti kebanyakan orang Islam, saya menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan perasaan yang penuh dengan rasa suka cita. Kegembiraan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu saat menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sepanjang yang saya ingat, perasaan seperti ini sudah muncul sejak saya masih kecil.

Satu hal yang selalu terkenang menjelang Ramadhan seperti ini adalah suasana di rumah Mbah Nirah, nenekku, rumah di mana aku tinggal selama hampir 12 tahun, sejak umur 5 tahun sampai SMA kelas 1. Masa lalu memang selalu indah untuk dikenang. Everything was better at the old days.

Saat-saat menjelang Ramadhan seperti sekarang ini, sewaktu kecil dulu, kami keluarga besar Mbah Nirah menantikan kedatangan anak-cucu Mbah Nirah yang ada di Jakarta, terutama keluarga Bulek Zaitun, yang selalu pulang dan berpuasa di Bumiayu bersama seluruh anak-anaknya. Kebetulan, pada jaman itu, pemerintah selalu meliburkan anak sekolah selama kira-kira 40 hari sejak menjelang bulan puasa hingga seminggu setelah lebaran Idhul Fitri.

Suasana kekerabatannya sangat terasa. Rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling merindukan, semua berkumpul dan bersatu di rumah Mbah Nirah. Pakde, Bude, dan saudara-saudara lainnya datang silih berganti untuk bertemu dengan Bulek Zaitun, anak perempuan terkecil dan kakaknya si bungsu Ami Dullah, yang sejak menikah pergi ke Jakarta ikut suaminya. Terasa betul nikmatnya persaudaraan pada saat itu. Kenikmatan yang tidak terlukiskan dan tidak bisa ditandingi dengan kenikmatan material yang saya miliki sekarang ini.

Pada bulan Ramadhan inilah, kita berkesempatan untuk mengurangi makanan jasmani dan sebaliknya, memperbanyak makanan rohani; makanan batiniah. Dengan cara itu, badan menjadi lebih sehat, spirit menjadi lebih kuat. Persaudaraan, rasa cinta, saling memberi, saling menghibur menghilangkan rasa rindu, bersendau-gurau dengan sanak famili, adalah makanan batin yang sangat lezat. Makanan yang sangat berharga laksana tetesan air di padang pasir untuk menjadi obat penawar rasa dahaga.

Selama 11 bulan kita disibukkan dengan urusan masing-masing. Sibuk bekerja bagi orang tua untuk menghidupi dan menjaga anak-anaknya, sibuk bersekolah bagi anak-anak untuk bekal di hari tua. Kesibukan itu sepertinya menenggelamkan kita semua, dan melupakan sementara bahwa kita memiliki saudara di tempat lain. Saudara yang bisa menjadi tempat untuk berbagi, setidaknya untuk berbagi cerita, melepas duka, dan meringankan segala beban hidup.

Maka pada bulan Ramadhan itulah, waktu yang sangat tepat bagi manusia untuk kembali mempererat dan mengukuhkan tali persaudaraan, saling meringankan beban hidup saudaranya, untuk kemudian bersama-sama kembali kepada fitrah. Kembali kepada fitrah manusia, yang salah satunya adalah perasaan untuk dekat dan saling membantu dengan kerabatnya.

Saat ini banyak orang lupa dengan kerabat. Banyak orang bersedekah tetapi tidak kepada kerabat dekatnya. Padahal Al-Quran menganjurkan untuk memperhatikan kerabat dekat, akrobin, terlebih dahulu ketimbang orang jauh. Akrobin adalah kerabat dekat secara darah, secara garis keturunan. Bahkan Imam Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, banyak ahli sedekah yang akan menyesal di akhirat kelak, karena mereka tidak memberi kepada yang lebih berhak, yaitu kepada kerabat dekatnya.

Melalui Ramadhan inilah, kita dipersiapkan untuk kembali kepada fitrah. Kembali tidaknya kita kepada fitrah ditentukan pada bulan ini. Sementara itu, Idul Fitri hanyalah semacam graduation, wisuda, atau pengukuhan, akan kembalinya kita kepada fitrah.

Itulah kenapa, orang yang masih memiliki iman di hatinya, masih memiliki bibit-bibit fitrah, akan menyambut Ramadhan ini dengan gembira, dengan penuh rasa suka cita.

Marhaban yaa Ramadhan!

Tuesday, August 28, 2007

Rahasia Sukses Sulaiman

Nabi Sulaiman adalah putra Nabi Daud. Ia adalah orang yang telah diberi hikmah, sebuah karunia besar yang tidak diberikan kepada semua orang, sebagaimana disebut dalam Al-Quran:

Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yg lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka (Daud dan Sulaiman) telah Kami berikan Hikmah dan ilmu. (QS 21:79).

Allah memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, maka ia benar-benar telah dianugerahi nikmat yang banyak (QS 2:269).

Saat berumur 11 tahun Sulaiman as telah mampu membuat keputusan hukum atas sebuah peselisihan yang terjadi di masyarakatnya (Ensiklopedi Nabi-nabi Allah, Ahmad Bahjat, hal 577). Hal tersebut dikisahkan dalam Al-Quran:

Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yg diberikan oleh mereka itu, (QS 21:78).

Setelah dewasa, Sulaiman menjadi nabi dan raja bagi bangsa Israel yang sukses, bergelimang kekuasaan dan harta. Al-Quran melukiskan kekuasaan nabi Sulaiman dengan kemampuannya mengendalikan angin, berbicara dengan binatang, dan menguasai bangsa jin.

Bagaimana menurut Kitab Perjanjian Baru yang banyak memuat kisah Sulaiman? Berdasarkan Kitab itu, Steven K. Scott menulis sebuah buku berjudul (terjemahan dalam bahasa Indonesia) Rahasia Kesuksesan, Kemakmuran, dan Kebahagiaan Raja Sulaiman, Manusia Terkaya yang Pernah Ada.

Apa saja rahasianya? Inilah daftar ringkasnya:
  • Ketekunan
Apakah Anda melihat seorang yang tekun dalam pekerjaannya? Dia seharusnya berdiri di depan raja. --Kitab Amsal Sulaiman 22:29

Orang yang tekun berhak mendapat perhargaan dari raja, sebuah imbalan tertinggi dalam sebuah masyarakat monarki seperti jaman dahulu.

Orang Arab mengenal pepatah Man Shabara Dhafara, yang terjemahan bebasnya adalah siapa yang sabar, tekun, ulet, dialah yang akan meraih sukses.

Ketekunan adalah kunci pertama dan utama untuk meraih keberuntungan dan kesuksesan. Secerdas apapun orang, jika tidak memiliki ketekunan, maka ia akan sulit menemui keberhasilan.

Ketekunan adalah ketrampilan yang dapat dipelajari dengan mengkombinasikan: keuletan kreatif, usaha cerdas yang direncanakan dengan tepat, dan efektif untuk mendapatkan hasil yang murni dan berkualitas tinggi.
  • Memiliki Visi
Tanpa visi, orang akan mati. --Kitab Amsal Sulaiman 29:18

VISI adalah tujuan yang pasti dan jelas dengan suatu rencana danjadual rinci untuk mencapai tujuan itu.
  • Memiliki Harapan
Harapan yang tak terpenuhi menyakitkan hati; tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan. --Kitab Amsal Sulaiman 13:12

Orang Islam megenal ayat:

Janganlah kamu berputus asa dari rakhmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yg ingkar. --QS Yusuf 87

HARAPAN adalah keyakinan logis dan pasti bahwa visi spesifik (tujuan, keinginan, atau janji) akan dicapai atau dipenuhi dalam waktu tertentu.
  • Komunikasi yang Efektif
Hati orang bijak mengajari mulutnya dan menambahkan kemampuan membujuk pada bibirnya. --Kitab Amsal Sulaiman 16:23

Suatu jawaban yang halus menghilangkan kegusaran, tetapi kata-kata yang buruk akan memicu kemarahan. --Kitab Amsal Sulaiman 15:1

Suatu kata yang diutarakan dengan tepat adalah seperti apel emas dalam lukisan dari perak. --Kitab Amsal Sulaiman 25:11

Dia yang menjawab suatu masalah sebelum dia mendengarnya, itu adalah tindakan yang bodoh dan memalukan untuk dia. --Kitab Amsal Sulaiman 18:13

Ketika ada banyak kata-kata, kesalahan tak terhindarkan. Tetapi, dia yang mengontrol bibirnya adalah bijak. --Kitab Amsal Sulaiman 10:19

Suatu lidah yang sehat adalah pohon kehidupan. --Kitab Amsal Sulaiman 15:4
  • Bermitra dengan Orang Baik dan Orang yang Tepat
Jauhi mitra yang: (1) tidak memiliki integritas, (2) pemarah dan pendendam, (3) orang bodoh atau bebal, (4) menawarkan banyak hasil dengan sedikit bekerja atau jalan pintas, (5) memiliki rayuan yang ekstrem, (6) cenderung pada gosip dan membesar-besarkan rumor, (7) tidak taat pada aturan, hukum, dan tata krama.
  • Berbahagialah
Sebuah hati yang bahagia adalah obat yang manjur; tetapi semangat yang rusak mengeringkan tulang. --Kitab Amsal Sulaiman 17:22

Orang Jawa mengenal istilah: nrimo ing pandhum. Selalu bergembira dengan apapun yang diberikan Tuhan kepadanya.

Orang Islam mengenal istilah La Tahzan atau jangan bersedih.

KEBAHAGIAAN adalah kesenangan terdalam yang konsisten, terus-menerus, dan abadi.
  • Miliki 4 Sifat
(1) Kebaikan, (2) Kejujuran, (3) Murah Hati, dan (4) Keramahan.
  • Mampu Mengatasi Konflik
(1) Memahami konsekuensi potensial dari konflik, (2) Carilah nasehat sebelum terlibat dalam konflik, (3) Pertahankan tujuan win-win solutions bagi semua pihak yang terlibat dalam konflik, (4) Jangan menanggapi kebodohan dalam cara dia menyerang, (5) Jangan ungkapkan informasi rahasia, (6) Jangan memperpanjang konflik, (7) Beri hadiah tak terduga, (8) Segera memaafkan.
  • Jangan Rakus
Demikianlah jalan dari setiap orang yang rakus akan keuntungan; yang mengambil nyawa orang yang memilikinya. --Kitab Amsal Sulaiman 1:19

KESERAKAHAN adalah suatu keinginan yang sangat besar sehingga menciptakan kerelaan untuk melakukan segala yang diperlukan guna mendapatkannya.
  • Jangan Sombong
Kecongkakan mendahului kehancuran, dan kesombongan mendahului kejatuhan. --Kitab Amsal Sulaiman 16:18

Prinsip-prinsip Toleransi

  • Agama langit yang dianut manusia datang dari Allah. Satu-satunya Tuhan (QS Az-Zumar 17-18 dan Asy-Syura 13).
  • Atas perbedaan kiblat dan syariah bagi tiap-tiap ummat, manusia justru diminta untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika menghendaki, Allah bisa menjadikan seluruh manusia ini satu ummat, satu agama, tetapi Allah hendak menguji manusia. Hanya kpd Allah-lah kembali seluruh manusia, lalu diberitahukan-Nya kepada mereka apa yg telah mereka perselisihkan itu (QS Al-Baqarah 148 dan Al-Maidah 47).
  • Para nabi adalah bersaudara, tidak ada perbedaan di antara misi mereka, yaitu agar manusia tunduk kepada Allah dan berakhlaq mulia (QS Al-Baqarah 236).
  • Iman atau akidah tidak bisa dipaksakan kepada manusia, karena landasan ketaatan kepada Allah haruslah dengan kesadaran dan kerelaan (QS Yunus 99).
  • Tempat-tempat beribadatan harus dipelihara, dijaga, dan dipertahankan dengan baik (QS Al-Hajj 40).
  • Manusia tidak harus bermusuhan hanya karena perbedaan mereka dalam memahami agama masing-masing (QS Al-Maaidah 2), dan penyelesaian akhir setiap perbedaan adalah menyerahkan kepada Allah (QS Al-Baqarah 113).
  • Perbedaan agama tidak harus menghalangi seseorang berbuat baik dan bersilaturahmi di antara mereka (QS Al-Maaidah 5).
  • Dalam keragaman diperlukan dialog yang baik dalam batas-batas kesopanan dengan argumentasi yang meyakinkan (QS Al-Ankabut 46 dan Al-An'am 108).
  • Tidak boleh berkawan dengan mereka yang mengadakan permusuhan karena urusan agama dan melakukan kejahatan kemanusiaan (pengusiran dari kampung halaman), namun tidak dilarang untuk tetap berbuat baik dan adil terhadap mereka (Al-Mumtahanah 8-9).

Sumber: Islamic Business Strategy for Entrepreneurship, Tim Multitama Communications, 2006.