Saturday, October 06, 2007

Hisab dan Rukyah

Melihat maraknya diskusi di banyak milis mengenai perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal di Indonesia, yang terjadi hampir setiap tahun, saya ingin meringkas permasalahan dan perbedaan pandangan yang ada.
  • Penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal dapat dilakukan (i) dengan cara perhitungan (hisab) atau (ii) dengan cara melihat hilal (rukyatul hilal atau biasa disebut rukyah saja).
  • Pihak yang berpedoman pada rukyah berpendapat bahwa, cara ini lebih sesuai dengan sunnah karena Nabi saw menganjurkan untuk memulai dan mengakhiri puasa karena "melihat hilal" sebagai sabdanya yang terkenal itu. Sementara, pihak yang menggunakan metode hisab berpendapat bahwa, --ringkasnya-- Islam tidak membatasi penentuan awal Ramadhan dengan melihat hilal secara kasat mata, tetapi dapat dilakukan melalui perhitungan karena Allah sudah berfirman bahwa peredaran bulan dan matahari mengikuti suatu ketetapan yang tidak berubah-ubah.
  • Perbedaan pendapat sebenarnya tidak terjadi antara hisab versus rukyah saja, tetapi juga sesama hisab maupun sesama rukyah; (i) perbedaan sesama hisab karena adanya perbedaan kriteria, (ii) sementara perbedaan sesama rukyah bisa karena peralatan yang digunakan; ada yang berpendapat harus dengan mata manusia sebagaimana sabda Nabi saw secara letterlijk, ada juga yang berpendapat bisa dilihat dengan peralatan modern seperti teropong bintang.
  • Perbedaan sesama hisab, misalnya, terjadi antara Muhammadiyah dan Persis. Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal, keadaan di mana posisi bulan sudah berada atas di ufuk, berapapun ketinggiannya. Sementara Persis menggunakan ketentuan imkanur rukyah, di mana ketinggian bulan minimal 2° di atas ufuk.
  • Perbedaan antara Muhammadiyah dan Persis terjadi pada tahun ini. Sesuai perhitungan (hisab), pada tanggal 29 Ramadhan pukul 12 siang telah terjadi ijtimak atau konjungsi (salah satu syarat astronomis untuk terjadinya bulan baru qamariyah, di mana posisi bulan dan matahari berada pada satu garis bujur dilihat dari posisi bumi, dan bulan berada pada posisi yang lebih dekat kepada matahari), dan ketinggian bulan di atas kota Yogya adalah 0,45° pada saat matahari terbenam.
  • Menurut Muhammadiyah, karena bulan sudah di atas ufuk meski hanya sebesar 0,45°, maka besoknya sudah bisa dihitung sebagai bulan baru, oleh karena itu Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal pada 12 Oktober 2007. Sedang menurut Persis, karena ketinggian bulan kurang dari 2°, maka besoknya belum dianggap memasuki bulan baru, oleh karenanya Persis memutuskan 1 Syawal jatuh pada tanggal 13 Oktober.
  • Di luar Muhammadiyah dan Persis, ada juga pendapat lepas dari para pakar. Misalnya pendapat Prof. Ir. Said Jenie, ScD, Kepala BPPT, seorang doktor yang menggeluti astrodynamic. Ia mengajukan syarat-syarat terjadinya bulan baru, yaitu:
  1. tinggi bulan > 2°,
  2. luas hilal > 1.5 %,
  3. separasi dg matahari > 10° dan
  4. umur hilal sejak ijtima' > 7 jam.
  • Dengan syarat itu, Prof Said Jenie berpendapat bahwa 1 Syawal jatuh pada tanggal 13 Oktober karena pada tanggal 29 Ramadhan atau 11 Oktober kondisi bulan adalah sebagai berikut:
  1. Tinggi bulan rata-rata 0 derajat 16 mnt s/d 1 derajat 05 menit,
  2. Luas hilal 0.16% -0.35%, hampir tak mungkin kelihatan,
  3. Separasi dg matahari cuma 5°, sehingga kecerlangan langit menghalangi kontrasnya bulan.
  4. Umur sejak terjadi ijtima' baru 5 jam.
  • Saya pribadi berpendapat, setelah mengikuti diskusi ini selama bertahun-tahun dan mempelajari berbagai pendapat yang ada, pendapat Prof Said Jenie dan Persis lebih bisa diterima akal saya, jika kita berpikir dalam kerangka hisab dan rukyah sekaligus.
  • Melihat hilal memang tidak harus diartikan secara letterlijk. Karena posisi bulan dan matahari yang sudah pasti --sebagaimana disebut Al-Quran-- maka posisi masing-masing benda langit tersebut juga bisa dihitung dengan ilmu hisab. Sementara itu, secara astronomis kita juga bisa menentukan kriteria benda-benda angkasa yang dapat terlihat dan secara fisika kita bisa menentukan definisi benda terlihat. Dengan ketentuan saintifik seperti itu, kita bisa menentukan kapan bulan terlihat tanpa harus melihatnya dengan mata kita. Dengan kriteria-kriteria seperti diajukan Prof Said Jenie, jika kondisinya terpenuhi, kita sudah bisa langsung memutuskan pergantian bulan tanpa perlu melihat hilal.
  • Sementara itu, menurut seorang pakar fisika dari ITS menjelaskan, ketentuan yang digunakan oleh Muhammadiyah lebih bisa dipertanggungjawabkan karena kriteria bulan terlihat, apakah itu 2°, 5°, 7°, atau 9°, tidak ilmiah. Maka, paling aman bagi Muhammadiyah adalah menggunakan titik NOL sebagai acuan untuk penentuan awal bulan baru. Sayangnya, dia tidak mau menjelaskan di mana ketidak-ilmiah-an pendapat bahwa hilal pada ketinggian 2°, 5°, 7°, atau 9° bisa dilihat.
  • Di luar ketentuan teknis tersebut di atas, ada juga perbedaan pendapat, siapa yang berhak menentukan awal dan akhir Ramadhan? Orang-orang salafi mengatakan hanya pemerintah yang berhak menentukan. Mereka yang berharap pada kesatuan ummat Islam dalam merayakan idul Fitri juga menghendaki adanya otoritas pemerintah dalam menentukan hari tersebut. MUI juga pernah mengeluarkan fatwa, yaitu fatwa no 2/2004 yang isinya mewajibkan kepada ummat Islam di Indonesia mengikuti keputusan pemerintah dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Namun demikian, ada juga pihak-pihak yang berpendapat bahwa pemerintah tidak perlu campur tangan dalam urusan ibadah warganya. Campur tangan pemerintah bisa juga dilihat sebagai upaya yang bertentangan dengan cita-cita negara sekuler Indonesia.
  • Jadi? Jangan berharap pada pemerintah atau ormas Islam, silahkan Anda memutuskan sendiri. Indonesia adalah negara merdeka. Anda pun bebas menentukan kapan lebaran Anda. Dengan informasi yang saya ringkas di atas, mudah-mudahan Anda yang membaca artikel ini bisa menentukan lebaran mana yang akan dinikmati.
  • Cheers :) :)

Thursday, October 04, 2007

Khatam Al-Quran

Minggu (30/9) malam, bertepatan dengan 19 Ramadhan, alhamdulillah, aku berhasil khataman al-Quran yang pertama.

Khatam, bahasa Arab, artinya penutup, akhir dari sebuah rangkaian. Berbeda dengan kata khalas, yang artinya selesai; dari sebuah proses. Kata khatam, misalnya, digunakan pada kata khatamun anbiya atau penutup --rangkaian-- para nabi; dimulai sejak Adam as dan diakhiri oleh Muhammad saw sebagai penutupnya. Kata ini juga bisa ditemukan pada istilah khusnul khatimah, atau akhir --kehidupan-- yang baik, atau meninggal dalam keadaan baik, bukan dalam keadaan maksiyat kepada Allah.

Bagi warga Bumiayu yang suka menggunakan istilah Arab, kata khatam digunakan juga saat sudah selesai membaca cerita silat Kho Ping Hoo yang berjilid-jilid itu. :)

Alhamdulillah, setiap bulan Ramadhan, saya bisa sekali khatam membaca al-Quran dalam bahasa Arab (tadarrus). Entah sejak SD kelas berapa aku memulainya, yang terbayang jelas dalam ingatan saya adalah al-Quran tua yang ada di rumah nenek yang dulu saya baca, saat pertama kali memulai khataman al-Quran. Sejak itu, sekali khatam membaca al-Quran di bulan Ramadhan seperti sudah menjadi kewajiban buat saya.

Akhir-akhir ini, setelah merasa semakin tua, mulai timbul keinginan atau nawaitu untuk membuatnya menjadi 2 kali khatam dalam bulan Ramadhan. Ternyata sangat berat. Setelah khatam yang pertama, rasanya seperti tidak ada semangat untuk membaca ulang. Seperti ada perasaan sudah tidak "wajib" lagi. Tetapi memang, perbuatan baik kadang harus dipaksakan, harus dilatih. Pepatah bilang: bisa karena biasa.

***
Apa sih manfaat membaca al-Quran, toh seluruh teks Arab yang dibaca tidak bisa sepenuhnya dipahami? Bagi saya pribadi, membaca al-Quran membuat jiwa saya merasa tenang. Mungkin sama dengan orang yang mendengar musik klasik, Beethoven atau Bach, yang konon bisa membuat perasaan menjadi tenang dan emosi menjadi cerdas.

Dari sekian banyak "musik", maka tadarrus, membaca al-Quran dengan nada-nada tertentu, adalah "musik" yang paling bisa membuat saya merasa tenteram. Saya membaca sendiri, membuat lagu sendiri, dan menikmati sendiri.

Menurut saya, kenikmatan mendengarkan pembacaan al-Quran sangat personal, tergantung dari pengalaman jiwa masing-masing. Kawan saya, Fadli Zon, katanya tidak suka dengan tilawatil quran-nya Muammar ZA yang meliuk-liuk itu, tetapi saya sangat suka. Sebaliknya, Fadli Zon sangat suka dengan tilawah-nya Syeikh Abdurrahman Sudais yang dari Makkah itu, tetapi saya kurang suka.

Tetapi ada satu kesamaan, ada kenikmatan yang bisa ditemukan atau diraih dari pembacaan ayat-ayat suci al-Quran, baik saat dibaca orang lain maupun saat dibaca sendiri: kenikmatan batin, ketenangan jiwa, dan ketentraman emosi.

***
Kenikmatan membaca al-Quran akan lebih mencapai puncaknya, mencapai titik optimum, ketika kelancaran membaca al-Quran diiringi nada yang enak, senandung yang mengalun sesuai dengan selera jiwa, dan pemahaman atas apa yang dibaca.

Bagi orang awam seperti kita, mungkin tidak perlu seluruh terjemahan harus dipahami. Ada beberapa tema pokok saja yang mungkin perlu dimengerti, seperti perintah shalat, puasa, zakat, infaq, sedekah kepada fakir miskin, amal shaleh, memenuhi janji, berbuat baik kepada orang tua, dan balasan-balasan atas amal manusia yang disediakan Allah.

Saat tadarrus, kita bisa menangis pada saat membaca ayat-ayat tentang balasan surga, azab neraka, atau bahkan turut bersedih karena memahami kepedihan dan ketabahan nabi Yaqub saat ditinggal nabi Yusuf anak kesayangannya.

Namun demikian, meski jika Anda tidak mengerti sama sekali arti dari ayat-ayat yang dibaca itu, saya yakin, Anda akan tetap bisa menikmatinya.

Somewhere, someplace, sometime, sepertinya kita semua pernah mendengar sebelumnya. Mungkin saat kita masih di alam langit, saat kita belum terlahir ke dunia ini. Maka, saat kita mendengarnya kembali di dunia ini, seperti ada rasa rindu yang terobati. :)

Wednesday, October 03, 2007

The Super IQ Test

Malam ini aku mengambil lagi tes IQ yang lain dari Tickle, namanya the Super IQ Test. Pada tes sebelumnya, The Classic IQ Test, saya cukup puas dengan free report, yang hanya menyampaikan ringkasan dari hasil tesnya.

Kali ini, karena penasaran, akhirnya saya rela membayar US$ 9.95 untuk membeli laporan hasil tes selengkapnya. Laporan hasil tesnya dapat dilihat pada alamat berikut:

The Super IQ Test - Tickle Personality Tests > Results

Karena saya ingin mengukur kemampuan sendiri dengan sebenar-benarnya, saya membatasi tes ini selama maksimum 1 jam; bisa tidak bisa harus diselesaikan.

Dari 54 soal, saya menjawab 48 soal dengan benar. Dari 6 jawaban yang salah, kategorinya adalah sebagai berikut:
  • 1 jawaban salah karena memang tidak tahu alias blank (soal tentang kemampuan bahasa).
  • 2 jawaban salah karena tidak paham dengan jawaban yang dimaui oleh soal tersebut.
  • 3 jawaban salah karena terjadi salah lihat akibat terburu-buru (soal-soal bergambar).
Hasilnya, score saya kali ini hanya 125. Komentarnya adalah sebagai berikut:

Fami, your IQ score is 125

Your overall intelligence quotient is the result of a scientifically-tested formula based on how many questions you answered correctly. But it's only part of what we learned about you from your answers on the test. We also determined the way you process information.

The way you think about things makes you an Intuitive Investigator. This means you have multiple talents and can do anything you set your mind to. You're able to detect numerical patterns easily and are able to grasp the true complexity of the world, both in its details and in a more abstract form. You've got a sharp logical mind and are adept at using words to get even a difficult point across. The combination of all these things makes you truly brilliant.

How did we determine that your thinking style is that of an Intuitive Investigator? When we examined your test results further, we analyzed how you scored on 8 dimensions of intelligence: spatial, organizational, abstract reasoning, logical, mechanical, verbal, visual and numerical. The 3 dimensions you scored highest on combine to make you an Intuitive Investigator. Only 6 out of 1,000 people have this rare combination of abilities.


***

Karena penasaran, berapa maksimum score yang dapat diperoleh jika seluruh jawaban yang diberikan benar, maka saya kembali menjawab soal-soal yang ada berdasarkan kunci jawaban yang ada pada laporan yang saya beli seharga US$ 9.95 itu. Ternyata, maksimum score adalah 168 dengan tipe intelektual Complex Intellectual.

Jika hanya 3 jawaban pada soal bergambar yang saya betulkan, nilainya menjadi 141 dengan tipe intelektual yang sama dengan 168, yaitu Complex Intellectual.