Friday, September 28, 2007

Kepercayaan Berbasis Tipuan

Khotbah Jum'at hari ini di masjid Nashrunminallah Jl. Kalibata Utara I tentang Nuzul al-Quran. Kebetulan, hari ini adalah puasa Ramadhan yang ke-16, dan nanti malam adalah malam Nuzul al-Quran, tanggal 17 Ramadhan.

Saya cukup risau dengan materi yang disampaikan menyangkut pengetahuan umum tentang Al-Quran yang sebenarnya keliru dan tanda-tanda malam lailatul qadar yang tidak bisa dicek kebenarannya. Kita sepertinya diminta untuk mempercayai kehebatan Al-Quran tetapi dengan argumen yang keliru, dengan misleading informations, dengan false beliefs.

Khatib mengatakan, salah satu ciri malam lailatul qadar, adalah air laut rasanya berubah menjadi tawar. Ini informasi yang baru pertama saya terima sepanjang hayat di kandung badan. Bagi orang awam, informasi ini mungkin cukup mengagumkan dan menambah keyakinan akan kekuasaan Allah. Tetapi, bagaimana bisa kita melakukan pengujian atas informasi ini? Ini soal air laut yang asin berubah menjadi tawar, seharusnya bisa diuji kebenarannya.

Sewaktu kecil, ustad dikampung mengatakan, ciri-ciri malam lailatul qadar adalah suasana malam yang tenang, angin seolah berhenti bergerak, suasana sangat damai. Hal ini masih memungkinkan untuk diuji kebenarannya. Pada malam lailatul qadar kita bisa berjaga dari kamar kita dan mengujinya cukup dengan membuka jendela kamar.

Tetapi, siapa mau menguji air laut yang asin berubah menjadi tawar pada malam lailatul qadar? Yang pertama membuat informasi tersebut mungkin berpikir, siapa pula yang akan ke laut mencoba rasanya air laut di tengah malam di bulan Ramadhan?

Yang lebih nekad lagi, khatib mengatakan bahwa jumlah ayat Al-Quran adalah 6666. Ini memang informasi yang sudah menjadi pengetahuan umum. Ini benar-benar misleading information yang sudah menjadi false belief. Memang tidak cukup krusial tingkat kesalahannya. Tidak ada konsekuensi apapun atas kepercayaan ini.

Tetapi, jika kita luangkan sedikit waktu untuk menghitung, dengan simple mathematical operation yang bernama penjumlahan, kita akan dapati angka 6236 ayat. Memang, angka 6236 tidak menimbulkan efek kejut pada otak sebagaimana angka 6666, yang susunan angkanya cukup memukau dan sangat mudah untuk diingat.

Tetapi, di era Microsoft Excel sudah masuk ke rumah-rumah penduduk, masihkan kita akan terus menggunakan angka 6666 untuk memukau ummat Islam akan kehebatan Al-Quran?

***
Beberapa bulan lalu, sebuah email yang disebar ke mana-mana dengan subyek "The very interesting findings of the Holy Qur'an", entah dibuat oleh siapa, juga nampaknya sedang mencoba membangun false belief dengan berbagai misleading informations.

Dalam email tersebut dimuat berbagai angka-angka yang cukup memukau. Ini salah satu contohnya:

Kata laut disebut dalam Al-Quran sebanyak 32, daratan 13.
Laut + Daratan = 32 +13= 45
Laut = 32/45*100% = 71.11111111%
Daratan = 13/45*100% = 28.88888889%
Modern science has only recently proven that the water covers 71.111% of the earth, while the land covers 28.889%.

Sungguh menakjubkan! Tetapi benarkah? Saya belum mengecek jumlah kata itu karena saya tidak tahu penghitungannya menggunakan bahasa Arab atau bahasa terjemahan; bahasa non-Arab. Tetapi beberapa kata lain yang bisa dicek, semuanya palsu. Misalnya, email itu menyebut jumlah kata bulan (syahr atau month) adalah 12. Setelah saya cek, setidaknya ditemukan ada 21 kata bulan (syahr). Kekeliruan terjadi pada jumlah kata "perempuan" dan "laki-laki", jumlah kata "hari", dan jumlah kata "shalat".

***
False belief tentu saja tidak hanya ada pada ruang agama. Baru-baru ini di milis Kahmi Pro Network ada artikel yang cocok untuk contoh adanya false belief tersebut. Artikel itu mengajak kita untuk optimis dalam memandang kehidupan. Apa yang terlihat, kadang tidak seperti apa yang kita pikirkan. Email itu mengatakan:

"Jika suatu peristiwa yang negatif namun kalau kita memandang/memaknai nya sebagai hal yang positif dan kita menyikapi dengan cara yang positif maka hasilnya pun akan positif pula."

Email ini tentu saja bagus untuk meng-encourage orang agar senantiasa berperilaku positif terhadap segala hal yang menimpa kita. Sebagaimana anjuran agama, kita dianjurkan untuk senantiasa melihat hikmah (positif) di balik setiap kejadian. Dirimulah yang membuat sesuatu itu bermanfaat atau tidak.

Akan tetapi, dasar yang dibuat untuk menyimpulkan bahwa "apa yang terlihat, kadang tidak seperti apa yang kita pikirkan" menggunakan peristiwa fisika yang dimaknai secara keliru.

Artikel itu seolah memberikan gambaran, bahwa otak kita bisa bekerja di luar hukum fisika. Kalau kita mau sebuah benda berwarna hijau, meski sebenarnya benda itu berwarna pink, maka benda itu akan berwarna hijau.

Tentu saja, otak tidak bisa suka-suka memberikan warna di luar input cahaya yang masuk ke retina dan tidak bisa bekerja di luar hukum fisika, kecuali karena ketidakmampuan otak itu sendiri dalam memprosesnya, seperti terjadi pada orang yang buta warna (color deficiency).

Monday, September 24, 2007

Mimpi Bertemu Almarhum

Setelah anak-anak berangkat sekolah, seperti biasa aku kembali melanjutkan tidur. Pada hari-hari biasa (di luar Ramadhan), aku biasa tidur pada pukul 2 atau 3 dini hari, terbangun pukul 5.30 atau 6, lalu tiduran atau menyiram tanaman di halaman depan dan belakang, sambil menunggu anak-anak berangkat sekolah. Setelah anak-anak berangkat ke sekolah, baru aku melanjutkan kembali tidurnya.

Aku tidak mengidap penyakit insomnia, penyakit susah tidur. Aku hanya menggeser jadual tidur. "Berangkat kerja" alias keluar rumah selalu sesudah jam 12 siang, pulang paling cepat jam 21-an. Jaman masih muda dulu, pulang ke rumah bisa di atas jam 12 malam. Sekarang sudah agak tua dan cepat lelah, terutama 5 tahun terakhir ini, jadi pulang juga dipercepat :)

Tadi pagi, dalam tidurku, aku bertemu dengan sejumlah almarhum: Mbah Nirah, uwak Muhaimin, uwak Hayinah, dan uwak Hindun. Uwak adalah sebutan untuk pakde atau bude, biasanya digunakan oleh orang Sunda. Bumiayu, termasuk wilayah Jawa Tengah yang berdekatan dengan perbatasan Jawa Barat, memiliki beberapa kosa kata yang berasal dari bahasa Sunda.

Mimpinya cukup lucu. Aku menemui mereka dalam rangka meminta ijin untuk menyiapkan perang melawan Jepang. Ketika aku masuk rumah uwak Hayinah, yang letaknya sebelah Barat rumah Mbah Nirah, aku menemui para pakde dan bude sedang berkumpul di sana. Aku menyalami sambil mencium tangan mereka satu per satu. Sambil menangis aku memberitahu kalau aku harus pergi berperang melawan Jepang.

Sesudah menemui pakde dan bude, aku masuk ke rumah nenek yang ada di sebelah rumah uwak Hayinah. Rupanya pasukan sudah berkumpul di rumah Mbah Nirah sedang rapat persiapan perang. Lalu aku menemui Mbah Nirah, menyalami sambil mencium tangannya.

***
Saat aku menulis artikel ini, aku masih terus merenung apa makna dari mimpi tersebut. Aku orang yang rasional tetapi suka percaya dengan pesan-pesan gaib. Sesuai kisah Nabi Yusuf, bisa jadi, mimpi itu memiliki makna dan pesan untuk sebuah peristiwa yang akan terjadi.

Apakah aku sudah mendapat undangan untuk berkumpul dengan mereka? Atau ada tugas penting yang akan segera dipercayakan kepadaku?

Yang pasti, saat tulisan ini hampir selesai, istriku berteriak dari bawah, burung kenari kesayanganku ditemukan mati di dalam sangkarnya dikerubuti semut merah. Padahal, kata sopirku, Nono, tadi pagi masih hidup dan masih berkicau dengan riang.

Ya sudah, umur burung itu sudah sampai. Tidak perlu ada yang dimarahi karena lalai merawat burung itu. Kebetulan adikku yang biasa merawat burung itu tadi pagi harus pulang ke Bumiayu.

Apabila telah datang ajal menjemput, maka tidak bisa diundur barang satu detik, atau bahkan satu mili-detik, juga tidak bisa dimajukannya barang sesaat sekalipun.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun!

Friday, September 21, 2007

Membangun Tradisi Sedekah

Anda tentu akan bangga, ketika orang tua Anda yang sudah almarhum dipuji-puji sebagai orang yang baik oleh orang lain, dan kebaikan itu adalah sesuatu yang tidak pernah Anda ketahui sebelumnya.

Lebih 7 tahun sudah ayahku meninggalkan dunia yang fana ini. Sudah beberapa kali aku, ibuku, atau adikku, mendengar pujian terhadap kebaikan ayahku dari orang lain. Umumnya orang memuji ayahku sebagai orang yang rajin shalat dan rajin bersedekah meski hidupnya pas-pasan bahkan bisa disebut kekurangan.

Kesaksian sebagai ahli sedekah terutama datang dari beberapa tukang becak, yang mengaku kadangkala diberi uang oleh ayahku kalau mereka mengeluh belum narik atau belum mendapat penghasilan.

***
Perintah dan anjuran untuk bersedekah sebagaimana tertulis dalam Al-Quran dan as-Sunnah tidak kurang-kurang. Seperti kata Bimbo dalam lagunya, Rasul menyuruh kita mencintai anak yatim dan mengasihi orang miskin. Sementara, Al-Quran menganjurkan manusia untuk bersedekah baik di kala lapang maupun di kala sempit.

Kenapa masih banyak manusia yang enggan untuk bersedekah? Karena mereka tidak memiliki rasa simpati kepada orang-orang yang lemah. Rasa simpati kepada orang yang lemah menumbuhkan rasa untuk berbagi. Keinginan untuk berbagi memunculkan keinginan untuk bersedekah.

Keinginan saja tentu tidak cukup. Banyak gangguan menghadang pelaksanaan dari keinginan itu. Pikiran-pikiran yang dapat mengganggu niat baik itu antara lain (1) anggapan bahwa sedekah tidak mendidik; sedekah dianggap membuat orang miskin menjadi semakin malas, (2) tidak merasa cukup; berapapun uang yang ia miliki seolah masih belum cukup untuk menutupi kebutuhan hidupnya, dan (3) takut miskin; sedekah mengurangi kekayaannya.

Kadang pula ada orang yang memang ignorance. Dia sebenarnya orang baik, tetapi tidak punya perhatian secara khusus pada masalah ini. Bisa jadi karena ia tidak mengetahui keutamaan sedekah.

Tetapi, ada juga orang yang mengerti agama dan tahu pentingnya sedekah, tetapi orang tersebut sama sekali tidak memiliki rasa simpati kepada orang yang lemah, kepada saudaranya atau teman-temannya yang miskin. Itulah orang-orang bakhil, yang hatinya tidak pernah tergerak untuk membantu orang-orang yang lemah.

Secara agama, melalui puluhan ayat Al-Quran, Allah sudah menjanjikan banyak insentif bagi mereka yang mau bersedekah: dari balasan sebanyak 700 kali lipat hingga surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Secara psikologis dan medis, saya tidak tahu apakah sudah ada penelitiannya atau belum, kata Nabi saw: sedekah bisa mengobati penyakit.

Meski demikian, tetap saja masih ada orang yang tidak mau bersedekah. Menurut saya, keinginan untuk berbagi itu ibarat pisau, dan setiap manusia memiliki pisau itu. Sebagaimana pisau, ada yang tumpul, ada pula yang tajam.

Pisau bawaan manusia pada dasarnya tumpul. Al-Quran menyebut, salah satu sifat manusia adalah kikir. Untuk bisa menjadi tajam, pisau tersebut harus diasah. Tanpa diasah, pisau itu akan tetap tumpul, manusia akan tetap menjadi orang yang bakhil. Bagaimana cara mengasahnya? Harus banyak berlatih untuk membangun tradisi bersedekah.

***
Bagaimana keluargaku membangun tradisi itu? Pertama dengan menceritakan kisah-kisah kebaikan keluarga yang perlu diperlihara dan diteruskan tradisinya. Jika kita perhatikan Al-Quran, maka kisah-kisah (al-qashash) menempati ruang yang cukup banyak di sana. Kisah-kisah adalah salah satu alat yang dapat digunakan untuk membangun karakter manusia. Melalui kisah-kisah manusia dapat mengambil pelajaran (ibrah) dan suri tauladan yang patut ditiru.

Kisah yang paling berkesan di hati saya adalah kisah kakek saya, Badri bin Abdul Gani, ketika memelihara kambing. Dulu, tahun 1950-1960-an, kakek saya memelihara kambing dalam jumlah yang cukup banyak. Caranya, ia menitipkan kambing-kambing itu kepada orang-orang desa. Itu adalah cara untuk membantu perekonomian orang-orang desa. Hingga suatu hari datang orang-orang yang dititipi kambing mengatakan bahwa kambingnya habis karena mati dan dicuri. Kata ayahku yang menceritakan hal ini, kakek saya tidak marah, bahkan kembali membelikan beberapa kambing untuk dipelihara kembali oleh mereka.

Kisah ini sungguh telah meresap begitu mendalam dalam hati saya. Sifat menolong dan pemaaf dari kakek adalah sifat yang sangat ingin saya tiru.

Kedua, pendidikan secara langsung untuk memberi perhatian kepada orang-orang yang lemah. Ayahku sering menyodorkan daftar anak yang tidak mampu agar dibantu biaya sekolahnya. Padahal waktu itu, biaya tambahan dari saya untuk ayah masih belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi ayah masih saja meminta saya untuk memperhatikan orang lain yang lebih kekurangan dari keluarga. Atau, kalau ada saudara ayah datang meminta beras karena seharian belum menanak nasi, maka beras yang ada di rumah dikasihkan kepada saudaranya tersebut, meski untuk esok hari ayah masih harus mencarinya kembali.

Dengan cara-cara itu, ayah telah mendidik kami mengenai pentingnya membantu orang-orang yang lebih lemah dari kita. Kita mungkin lemah, tetapi selalu ada orang yang jauh lebih lemah dari kita. Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas, agar kita bisa bersyukur.

Melalui dua cara itu, aku ingin membangun tradisi bersedekah dalam keluargaku sendiri. Dengan dibantu istriku, yang juga memiliki perhatian kepada orang miskin, insya Allah aku bisa meneruskan tradisi keluarga yang baik ini. Semoga!