Tuesday, September 18, 2007

Main Saham

Berulang kali, sahabat saya, Lalu Mara Satriawangsa, mengajak untuk bermain saham. Dia menawarkan diri untuk memutar uang saya di pasar saham yang menjadi keahliannya.

Sebagai orang yang pernah jatuh di pasar saham hingga hampir membangkrutkan dirinya secara total, ia menjadi seorang pemain saham yang sangat hati-hati. Tiga empat tahun terakhir ini ia mulai memetik hasil yang bagus. Asetnya sudah kembali pulih, bahkan mungkin bertambah berkali-kali lipat dalam 3 tahun terakhir ini.

Ia berbaik hati menawarkan keahliannya itu untuk berbagi sukses. Namun demikian, bayang-bayang permainan kawannya yang meludeskan uang saya di pasar saham dua tahun lalu hingga Rp 400 juta, masih belum bisa hilang. Dari uang Rp 600 juta yang saya titipkan kepada kawannya, selama enam bulan hampir saja ludes semuanya kalau saja saya tidak mengintervensi, hingga tersisa Rp 200 jutaan yang bisa diselamatkan.

Saat itu memang saya sedikit terbuai dengan rayuan kawannya. Dalam kondisi Lalu Mara sedang sakit, sedang menjalani operasi di rumah sakit, dia meminta saya menempatkan sejumlah uang untuk dibelikan saham-saham yang katanya bakal naik 2-3 kali lipat dalam beberapa bulan ke depan. Tanpa konsultasi dengan Lalu Mara, saya langsung menyetujuinya. Akibatnya fatal. Kawan yang satu ini ternyata tidak sehati-hati dan sepandai Lalu Mara. Uang itu bukannya dibelikan saham yang dia janjikan, tetapi dia putar untuk membeli saham-saham lainnya. Akibatnya ya itu tadi, uang saya hampir Rp 400 juta hilang tanpa bekas.

Sejak itu, sepertinya saya tidak ingin lagi menempatkan dana saya untuk diputar di pasar saham. Di samping cadangan uang saya tidak lagi sebanyak dua tahun yang lalu, belakangan saya berpikir bahwa permainan di pasar saham adalah permainan ribawi (mengandung unsur riba) dan sedikit berbau perjudian. Lalu Mara sendiri mengatakan permainan tersebut sebagai "perampokan yang dilegalkan", meski kita juga mengenal saham-saham syariah.

Tetapi, melihat Lalu Mara yang sudah menambah dua buah rumah senilai lebih dari Rp 2,5 miliar dalam 3 tahun terakhir ini, rasanya ingin juga menempatkan dana saya untuk diputar di pasar saham.

Wednesday, September 12, 2007

Get a Fork!

Kalau lagi melihat garpu, kadang aku teringat pada kejadian yang sangat memalukan. Peristiwanya terjadi pada tahun pertamaku di Amerika Serikat, 1989, saat bekerja di restoran kampus yang dikelola oleh Student Union Memorial Center, the University of Arizona, Tucson, Arizona.

Restoran tersebut tidak melayani mahasiswa secara umum, seperti restoran-restoran yang ada di lantai 1 gedung Students Union Memorial Center, tetapi khusus melayani pesta-pesta, terutama lunch dan dinner, yang menggunakan auditorium gedung Students Union, atau melayani tamu-tamu di ruang VIP stadion bola basket dan football milik kampus.

Saya bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Sebagai karyasiswa, saya mendapat kiriman biaya hidup dari negara sebesar US$ 550 setiap bulannya, di luar biaya buku sebesar US$ 150 per semester. Uang kiriman biaya hidup bisa dibilang cukup, kecuali uang buku yang dirasa terlalu kecil.

Jika harga sebuah textbook sekitar US$ 50, dan satu semester kita mengambil 6 mata pelajaran, maka sudah US$ 300 sendiri kebutuhan untuk membeli buku setiap semesternya. Belum lagi kalau harus mengambil sejumlah mata kuliah pada semester tambahan di luar semester reguler (Fall dan Spring Semester), yaitu semester musim panas (Summer Semester) serta semeser musim dingin (Winter Semester).

Maka aku merasa harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan, terutama untuk menutup biaya telepon yang sering membengkak kalau lagi rajin telepon sang pacar di tanah air :) dan kiriman tambahan buat orang tua di Bumiayu.

Karena bahasa Inggrisku untuk percakapan tidak terlalu bagus, dan Social Security Number (SSN) yang aku miliki tercantum not valid for employment, aku memilih pekerjaan kasar yang hanya diminati oleh warga asing, terutama Asia dan Amerika Latin. Pekerjaan itu adanya di restoran kampus, dan hanya dibuka pada semester reguler. Teman-teman kerjaku kebanyakan dari Singapura, China, Pakistan, Meksiko, dan Venezuela.

Hasil dari bekerja di restoran cukup lumayan. Dengan minimum wage (upah minimum) saat itu sebesar US$ 4.25 per jam dan setiap event biasanya membutuhkan waktu 6 jam, saya bisa mendapatkan US$ 25 per event. Jika per minggu ada 4 event (saya memilih bekerja untuk melayani dinner agar tidak mengganggu jam kuliah) maka saya bisa mendapatkan US$ 200 setiap hari pembayaran (2 minggu sekali).

Supervisorku di restoran itu adalah seorang wanita tua berambut putih, setinggi kurang lebih 155 cm. Mungkin ia keturunan Amerika Latin. Orangnya sangat baik kepadaku. Aku memanggilnya Opal.

Opal adalah supervisor bidang penyelenggaraan kegiatan (event supervisor), yang tugasnya meliputi pekerjaan menyiapkan dan menata meja, menghidangkan makanan, standby di tengah pesta untuk melayani kebutuhan minuman para tamu, hingga mencuci bersih semua peralatan yang digunakan dalam pesta dari piring, sendok, garpu, hingga tempat-tempat makanan lainnya.

Suatu hari, atasan Opal, lelaki tinggi kurus berkumis tebal, datang meninjau ke dapur, mengawasi secara langsung bagaimana kami bekerja menyiapkan sebuah pesta. Tiba-tiba saja pas aku lewat di depannya, ia memanggilku. "What is your name?" ia bertanya kepadaku. "My name is Fami, Sir", jawabku. "Get a fork for me!" pintanya. Sejenak aku bingung, karena bule itu ngomongnya sangat cepat. Aku langsung berpikir, apakah dia menyebut pork? Emangnye orang Sunda menyebut "f" dengan "p"? Atau dia menyebut fox? Apakah ada nama sebuah peralatan dapur yang bunyinya mirip-mirip itu dan saya belum tahu? Gobloknya, saya tidak bisa menduga bahwa dia minta sebuah fork, sebuah garpu :)

Saat berlari ke rak, aku sambil berpikir bertanya pada diriku sendiri, tuh bule minta apa yah kira-kira. Saat saya masih bengong, dia mengulangi permintaannya dengan nada yang cukup tinggi. Saya beranikan diri bertanya, apa yang dia minta. Sambil membentak dan mengeja, dia mengulangi, "get a fork!" Kali ini aku mendengar, kata terakhir yang ia ucapkan seperti berakhiran "g", sejenis fog atau forge. Aku makin bingung.

Bule itu langsung meledak kemarahannya. "Do you speak english!? How can you work here!?" bentaknya. Opal yang melihat aku dibentak-bentak langsung mendekatiku dan menuntunku menuju rak peralatan dapur. Ia mengambilkan garpu dan berkata dengan lembut kepadaku, "he needs this fork, Fami." Dengan wajah yang sangat malu aku menyerahkan benda itu kepada manajer itu. Setelah menerima garpu tadi, iapun langsung pergi sambil ngomel-ngomel.

***
Saat kembali ke apartemen dan saya ceritakan kepada kawan-kawan, mereka semua tertawa. Untuk pelajaran yang oleh orang bule dianggap berat, seperti matematika, fisika, dan kimia, boleh jadi saya mendapatkan A atau B. Bahkan untuk matematika, seringkali dapat 100 kalau lagi ulangan. Tapi, saya dibentak-bentak orang untuk urusan sepele, hanya gara-gara kata fork.

Saturday, September 08, 2007

Selamat Datang Ramadhan

Kamis depan, 13 September 2007, insya Allah kita akan mamasuki bulan Ramadhan. Nampaknya tidak ada pihak-pihak yang berselisih dalam penentuan awal Ramadhan tahun ini, semua menentukan tanggal tersebut sebagai awal Ramadhan.

Seperti kebanyakan orang Islam, saya menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan perasaan yang penuh dengan rasa suka cita. Kegembiraan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu saat menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sepanjang yang saya ingat, perasaan seperti ini sudah muncul sejak saya masih kecil.

Satu hal yang selalu terkenang menjelang Ramadhan seperti ini adalah suasana di rumah Mbah Nirah, nenekku, rumah di mana aku tinggal selama hampir 12 tahun, sejak umur 5 tahun sampai SMA kelas 1. Masa lalu memang selalu indah untuk dikenang. Everything was better at the old days.

Saat-saat menjelang Ramadhan seperti sekarang ini, sewaktu kecil dulu, kami keluarga besar Mbah Nirah menantikan kedatangan anak-cucu Mbah Nirah yang ada di Jakarta, terutama keluarga Bulek Zaitun, yang selalu pulang dan berpuasa di Bumiayu bersama seluruh anak-anaknya. Kebetulan, pada jaman itu, pemerintah selalu meliburkan anak sekolah selama kira-kira 40 hari sejak menjelang bulan puasa hingga seminggu setelah lebaran Idhul Fitri.

Suasana kekerabatannya sangat terasa. Rasa saling mencintai, saling mengasihi, saling merindukan, semua berkumpul dan bersatu di rumah Mbah Nirah. Pakde, Bude, dan saudara-saudara lainnya datang silih berganti untuk bertemu dengan Bulek Zaitun, anak perempuan terkecil dan kakaknya si bungsu Ami Dullah, yang sejak menikah pergi ke Jakarta ikut suaminya. Terasa betul nikmatnya persaudaraan pada saat itu. Kenikmatan yang tidak terlukiskan dan tidak bisa ditandingi dengan kenikmatan material yang saya miliki sekarang ini.

Pada bulan Ramadhan inilah, kita berkesempatan untuk mengurangi makanan jasmani dan sebaliknya, memperbanyak makanan rohani; makanan batiniah. Dengan cara itu, badan menjadi lebih sehat, spirit menjadi lebih kuat. Persaudaraan, rasa cinta, saling memberi, saling menghibur menghilangkan rasa rindu, bersendau-gurau dengan sanak famili, adalah makanan batin yang sangat lezat. Makanan yang sangat berharga laksana tetesan air di padang pasir untuk menjadi obat penawar rasa dahaga.

Selama 11 bulan kita disibukkan dengan urusan masing-masing. Sibuk bekerja bagi orang tua untuk menghidupi dan menjaga anak-anaknya, sibuk bersekolah bagi anak-anak untuk bekal di hari tua. Kesibukan itu sepertinya menenggelamkan kita semua, dan melupakan sementara bahwa kita memiliki saudara di tempat lain. Saudara yang bisa menjadi tempat untuk berbagi, setidaknya untuk berbagi cerita, melepas duka, dan meringankan segala beban hidup.

Maka pada bulan Ramadhan itulah, waktu yang sangat tepat bagi manusia untuk kembali mempererat dan mengukuhkan tali persaudaraan, saling meringankan beban hidup saudaranya, untuk kemudian bersama-sama kembali kepada fitrah. Kembali kepada fitrah manusia, yang salah satunya adalah perasaan untuk dekat dan saling membantu dengan kerabatnya.

Saat ini banyak orang lupa dengan kerabat. Banyak orang bersedekah tetapi tidak kepada kerabat dekatnya. Padahal Al-Quran menganjurkan untuk memperhatikan kerabat dekat, akrobin, terlebih dahulu ketimbang orang jauh. Akrobin adalah kerabat dekat secara darah, secara garis keturunan. Bahkan Imam Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, banyak ahli sedekah yang akan menyesal di akhirat kelak, karena mereka tidak memberi kepada yang lebih berhak, yaitu kepada kerabat dekatnya.

Melalui Ramadhan inilah, kita dipersiapkan untuk kembali kepada fitrah. Kembali tidaknya kita kepada fitrah ditentukan pada bulan ini. Sementara itu, Idul Fitri hanyalah semacam graduation, wisuda, atau pengukuhan, akan kembalinya kita kepada fitrah.

Itulah kenapa, orang yang masih memiliki iman di hatinya, masih memiliki bibit-bibit fitrah, akan menyambut Ramadhan ini dengan gembira, dengan penuh rasa suka cita.

Marhaban yaa Ramadhan!